Youtube

Prabowo di Unhan: Saat Negara Tak Bisa Lagi Dipimpin oleh Koncoisme dan Koneksi

Sentul, Navigasi.in — Pidato Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Universitas Pertahanan (Unhan), Senin (12/2/2024), tidak berhenti sebagai sambutan seremonial. Di Aula Merah Putih Unhan, Sentul, Bogor, Prabowo menyampaikan kritik tajam terhadap praktik yang selama puluhan tahun menggerogoti sendi-sendi kemajuan bangsa: koncoisme dan budaya koneksi.


Prabowo di Unhan: Saat Negara Tak Bisa Lagi Dipimpin oleh Koncoisme dan Koneksi
Prabowo di Unhan: Saat Negara Tak Bisa Lagi Dipimpin oleh Koncoisme dan Koneksi


Di hadapan para wisudawan sarjana, magister, dan doktor, Prabowo berbicara dengan nada tegas namun reflektif. Ia menyinggung realitas pahit bahwa di banyak institusi, promosi jabatan dan pemberian penghargaan sering kali tidak ditentukan oleh prestasi, melainkan oleh relasi personal, kedekatan politik, dan hubungan kekerabatan.

“Kalau negara kita mau maju, mau hebat, yang dihormati, yang dihargai, yang harus segera dipromosikan dan diberi penghargaan adalah mereka yang berprestasi. Kita harus menuju ke arah merit system,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut langsung mengubah nuansa pidato wisuda menjadi pesan kebangsaan yang lebih luas. Bukan hanya ditujukan kepada lulusan Unhan, tetapi kepada seluruh elite dan birokrasi negara.

Koncoisme: Penyakit Lama dalam Sistem Bernegara

Istilah koncoisme bukan istilah baru dalam kamus politik Indonesia. Koncoisme merujuk pada praktik mendahulukan teman, kerabat, atau kelompok sendiri dalam pengambilan keputusan, terutama dalam promosi jabatan dan distribusi kekuasaan.

Prabowo mengkritik kebiasaan tersebut secara terbuka.

“Kebiasaan kita adalah nanti koneksi, koncoisme, kamu anaknya siapa, kamu ponakannya siapa, dan sebagainya,” ujarnya.

Ungkapan itu mencerminkan pengalaman kolektif masyarakat Indonesia. Banyak individu berprestasi harus tersingkir bukan karena kalah kemampuan, melainkan karena tidak memiliki akses ke lingkaran kekuasaan.

Koncoisme bukan sekadar persoalan etika, melainkan persoalan struktural. Ia melahirkan ketidakadilan, menurunkan kualitas kepemimpinan, dan dalam jangka panjang merugikan negara.

Merit System dan Meritokrasi

Sebagai antitesis dari koncoisme, Prabowo menekankan pentingnya merit system. Sistem ini menempatkan kompetensi, integritas, dan prestasi sebagai dasar utama dalam manajemen sumber daya manusia.

Merit system sering disandingkan dengan meritokrasi, yakni sistem yang memberi kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan, bukan latar belakang sosial, kekayaan, atau kedekatan dengan kekuasaan.

Menurut Prabowo, tanpa merit system, negara akan sulit bersaing dengan bangsa lain yang lebih disiplin dalam menghargai kualitas.

Unhan sebagai Contoh Meritokrasi

Di tengah kritiknya, Prabowo memberikan apresiasi kepada Universitas Pertahanan. Ia menyebut Unhan sebagai salah satu institusi yang berhasil menerapkan meritokrasi secara konsisten.

“Saya bersyukur, di Unhan tidak ada koncoisme. Tidak ada faktor koneksi seperti itu. Yang dinilai adalah kemampuan,” tegas Prabowo.

Unhan dikenal sebagai perguruan tinggi strategis dengan proses seleksi ketat dan standar akademik tinggi. Mahasiswa datang dari berbagai latar belakang daerah dan sosial, tetapi disatukan oleh kemampuan dan disiplin.

Anak Petani hingga Penjual Bakso

Bagian paling menyentuh dari pidato Prabowo adalah ketika ia menyinggung latar belakang keluarga para wisudawan.

“Ada anaknya petani, ada anaknya pekerja pelabuhan, ada anaknya penjual bakso di pasar. Ini membanggakan hati saya. Ini adalah Indonesia yang kita cita-citakan,” kata Prabowo.

Pernyataan tersebut menegaskan esensi meritokrasi: memberi ruang yang sama bagi setiap anak bangsa untuk maju berdasarkan kemampuan.

Meritokrasi dan Mobilitas Sosial

Dalam perspektif yang lebih luas, meritokrasi berkaitan langsung dengan mobilitas sosial. Ketika sistem berjalan adil, anak dari keluarga sederhana memiliki peluang nyata untuk meningkatkan taraf hidup.

Sebaliknya, tanpa merit system, kemiskinan dan ketimpangan cenderung diwariskan dari generasi ke generasi.

Risiko Jika Koncoisme Terus Dibiarkan

Praktik koncoisme membawa sejumlah konsekuensi serius, antara lain:

  • Menurunnya kualitas kepemimpinan nasional
  • Melemahnya daya saing Indonesia
  • Meningkatnya ketidakpercayaan publik
  • Terhambatnya inovasi dan reformasi
  • Hilangnya talenta terbaik ke luar negeri

Dalam konteks bonus demografi, kegagalan mengelola talenta muda justru bisa menjadi bumerang bagi pembangunan.

Konteks Politik Nasional

Pidato Prabowo juga tidak bisa dilepaskan dari konteks politik nasional. Sebagai figur sentral, setiap pernyataannya dibaca sebagai sinyal arah kebijakan.

Penekanan pada merit system dapat dimaknai sebagai komitmen terhadap reformasi birokrasi dan penataan ulang sistem penghargaan di institusi negara.

Antara Retorika dan Implementasi

Publik Indonesia telah lama akrab dengan janji reformasi. Tantangan terbesar bukan pada konsep, melainkan pada konsistensi pelaksanaan.

Meritokrasi menuntut transparansi, keberanian politik, serta kesediaan memutus mata rantai kepentingan jangka pendek.

Unhan dan Masa Depan Kepemimpinan

Sebagai institusi pendidikan strategis, Unhan memegang peran penting dalam mencetak pemimpin masa depan, khususnya di sektor pertahanan dan keamanan.

Jika tradisi meritokrasi di Unhan dapat direplikasi secara nasional, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperbaiki kualitas kepemimpinannya.

Penutup

Pidato Prabowo di Universitas Pertahanan menegaskan bahwa kekuatan negara tidak hanya ditentukan oleh senjata atau anggaran, tetapi oleh cara negara menghargai manusia terbaiknya.

Ketika koncoisme ditinggalkan dan meritokrasi ditegakkan, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menjadi bangsa besar dan berdaulat.

Post a Comment for "Prabowo di Unhan: Saat Negara Tak Bisa Lagi Dipimpin oleh Koncoisme dan Koneksi"