Memahami Prabowo Lebih Sulit Ketimbang Memahami Jokowi
Ya, setidaknya itulah kesimpulan yang saya dapatkan hari ini, setelah mencoba menelusuri ulang jejak sikap, ucapan, dan posisi politik Presiden Prabowo Subianto dari waktu ke waktu.
![]() |
| Memahami Prabowo Lebih Sulit Ketimbang Memahami Jokowi |
Kesimpulan ini mungkin terdengar subjektif, bahkan emosional. Namun justru dari subjektivitas itulah refleksi politik warga negara lahir. Karena politik, pada akhirnya, bukan hanya soal kebijakan dan kekuasaan, tetapi juga soal keterbacaan sikap dan konsistensi moral.
Jokowi: Sosok yang Mudah Dibaca
Sejujurnya, memahami Jokowi itu relatif mudah. Begitu kita memahami siapa Jokowi sebenarnya, maka hampir seluruh ucapan, keputusan, dan langkah politiknya menjadi terang-benderang.
Jokowi bukan politisi ideolog. Ia juga bukan pemimpin yang gemar berteori. Jokowi adalah sosok pragmatis, manajerial, dan sangat berorientasi pada stabilitas serta kesinambungan kekuasaan. Ia tidak terlalu peduli pada wacana besar, selama roda kekuasaan berjalan dan dukungan elite tetap terjaga.
Dalam konteks itu, berbagai kebijakan Jokowi—baik yang dipuji maupun dikritik—terlihat konsisten dengan karakter dasarnya. Ketika ia merangkul oligarki, itu masuk akal. Ketika ia melemahkan oposisi, itu bisa diprediksi. Ketika ia mendorong dinasti politik, itu bukan anomali.
Begitu kita tahu siapa Jokowi, kita tidak perlu heran dengan apa yang ia lakukan.
Bahkan manuver paling kontroversial sekalipun—termasuk keputusan mendorong anaknya maju ke panggung kekuasaan nasional—tetap terasa linear dengan logika kekuasaan yang ia bangun sejak awal.
Prabowo: Sosok yang Sarat Paradoks
Berbeda dengan Jokowi, memahami Prabowo Subianto justru jauh lebih rumit.
Prabowo bukan figur satu dimensi. Ia datang dengan latar militer, sejarah panjang konflik politik, narasi nasionalisme keras, dan citra pemimpin kuat. Selama bertahun-tahun, ia memposisikan diri sebagai antitesis Jokowi.
Ia berbicara tentang kedaulatan, kebocoran kekayaan negara, antek asing, dan elite yang mengkhianati bangsa. Narasi ini begitu kuat, sehingga membentuk loyalitas emosional jutaan pendukungnya.
Namun justru di situlah persoalan bermula.
Menteri Pertahanan: Strategi atau Adaptasi?
Ketika Prabowo menerima posisi Menteri Pertahanan di kabinet Jokowi, banyak pendukungnya kebingungan. Namun sebagian—termasuk saya saat itu—berusaha berpikir positif.
Mungkin ini strategi jenderal, pikir saya. Mungkin ini langkah taktis untuk masuk ke dalam sistem, memahami kekuasaan dari dalam, dan menyiapkan momentum yang lebih besar di masa depan.
Dalam sejarah politik, langkah semacam itu bukan hal asing. Banyak tokoh besar memilih kompromi sementara demi tujuan jangka panjang.
Tapi seiring waktu, tanda tanya mulai bermunculan.
Dari Kritik ke Pujian yang Berlebihan
Prabowo tidak sekadar bergabung. Ia mulai memuji Jokowi secara terbuka, berulang-ulang, dan dengan intensitas yang sulit diabaikan.
Pujian itu bukan pujian normatif seorang menteri kepada presidennya. Ia sering terdengar seperti pembelaan total, bahkan glorifikasi.
Di titik ini, banyak orang mulai bertanya: apakah ini ketulusan, atau sekadar peran?
Apakah Prabowo sedang membela Jokowi, atau sedang memainkan sandiwara politik?
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar terjawab, dan justru semakin kabur ketika Prabowo melangkah ke fase berikutnya.
Nyapres Bersama Gibran: Titik Balik Simpati
Keputusan Prabowo maju sebagai calon presiden dengan Gibran Rakabuming Raka sebagai pendampingnya adalah momen krusial.
Bagi sebagian orang, ini adalah langkah jenius. Bagi sebagian lain, ini adalah pengkhianatan terhadap seluruh narasi perlawanan yang selama ini dibangun.
Bagi saya pribadi, di titik inilah simpati terhadap Prabowo mulai runtuh.
Bukan semata karena Gibran, tetapi karena implikasi moral dan politik dari pilihan tersebut. Semua kritik terhadap dinasti, oligarki, dan penyalahgunaan kekuasaan seolah runtuh dalam satu keputusan.
Kampanye dan debat capres semakin mempertegas kebingungan itu. Prabowo tampil bukan sebagai oposisi, bukan pula sebagai alternatif, melainkan sebagai kelanjutan.
Terpilih sebagai Presiden: Muncul Rasa Kasihan
Ketika Prabowo akhirnya terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia, reaksi publik sangat beragam.
Anehnya, alih-alih marah atau kecewa, banyak orang—termasuk saya—justru merasa kasihan.
Ada kesan kuat bahwa Prabowo bukan sepenuhnya bebas. Bahwa ia terikat oleh kompromi politik, utang dukungan, dan struktur kekuasaan yang tidak ia bangun sendiri.
Ia tampak seperti presiden yang menang, tetapi tidak sepenuhnya berdaulat.
"Hidup Jokowi!" dan Kebingungan Baru
Rasa kasihan itu tidak bertahan lama.
Ketika Prabowo berteriak, “Hidup Jokowi!”, sesuatu berubah. Bukan hanya di ruang publik, tetapi di benak banyak orang.
Seruan itu bukan sekadar simbol penghormatan. Ia memiliki makna politik yang sangat kuat. Ia menegaskan kesinambungan, loyalitas, dan keberlanjutan kekuasaan.
Di titik ini, rasa kasihan berubah menjadi heran, lalu bingung.
Antek Asing dan Paradoks Retorika
Dalam berbagai kesempatan, Prabowo kerap menyebut para pengkritik pemerintah sebagai “antek-antek asing”.
Retorika ini mengingatkan publik pada gaya lama Prabowo: keras, konfrontatif, dan penuh kecurigaan terhadap kritik.
Namun, ironi muncul ketika di saat yang sama, ia bergabung dengan forum-forum global, board of peace, dan menyumbangkan dana dalam jumlah fantastis.
Di sinilah netizen mulai bersuara. Bukan dengan analisis panjang, tetapi dengan sindiran: siapa sebenarnya antek asing?
Itu kata netizen, lho. Bukan kata saya. Hehehe.
Mengapa Prabowo Sulit Dipahami?
Kesulitan memahami Prabowo bukan karena ia bodoh atau tidak konsisten secara teknis. Justru sebaliknya.
Prabowo terlalu banyak memainkan peran: nasionalis, negarawan, loyalis, jenderal, politisi pragmatis, sekaligus simbol perlawanan.
Peran-peran ini sering kali saling bertabrakan, menciptakan disonansi kognitif di mata publik.
Jokowi mudah dipahami karena ia jarang berpura-pura. Prabowo sulit dipahami karena ia terlalu sering berubah posisi, atau setidaknya terlihat demikian.
Penutup: Kita Sedang Memahami, Bukan Menghakimi
Tulisan ini bukan ajakan untuk membenci, apalagi menghakimi. Ini adalah upaya memahami.
Sebagai warga negara, kita berhak bertanya, merenung, dan bahkan bingung.
Mungkin Prabowo memiliki rencana besar yang belum terlihat. Mungkin juga ia sekadar beradaptasi dengan realitas kekuasaan yang brutal.
Yang jelas, memahami Prabowo memang jauh lebih sulit ketimbang memahami Jokowi.
Dan mungkin, di situlah persoalan terbesar politik kita hari ini: ketika pemimpin tidak lagi mudah dibaca, kepercayaan publik pun ikut mengabur.

Post a Comment for "Memahami Prabowo Lebih Sulit Ketimbang Memahami Jokowi"