Youtube

Berangkat Perang 80 Orang, Pulang 81: Kisah Liechtenstein dan Satu-Satunya Perang dengan Korban Minus Satu

Navigasi.in – Feature Viral Sejarah Dunia Jika mendengar kata perang, bayangan yang muncul hampir selalu sama: dentuman meriam, jerit korban, dan daftar panjang angka kematian. Dalam buku sejarah, perang biasanya diukur dari berapa banyak nyawa yang melayang.

Berangkat Perang 80 Orang, Pulang 81: Kisah Liechtenstein dan Satu-Satunya Perang dengan Korban Minus Satu
Berangkat Perang 80 Orang, Pulang 81: Kisah Liechtenstein dan Satu-Satunya Perang dengan Korban Minus Satu


Namun, sejarah dunia pernah mencatat sebuah peristiwa yang nyaris terdengar seperti lelucon, tapi benar-benar terjadi. Sebuah perang di mana tidak ada satu pun tentara yang gugur. Bahkan, pasukan yang berangkat justru pulang dengan jumlah lebih banyak.

Kisah ini datang dari sebuah negara kecil di Eropa bernama Liechtenstein. Dan ya, ini bukan cerita fiksi.


Negara Kecil yang Nyaris Terlupakan

Liechtenstein adalah negara mikro yang terletak di antara Swiss dan Austria. Luas wilayahnya hanya sekitar 160 kilometer persegi—lebih kecil dari banyak kota besar di dunia. Penduduknya sedikit, ekonominya sederhana, dan militernya nyaris tak terdengar dalam sejarah.

Di abad ke-19, Liechtenstein bukanlah negara yang ambisius secara militer. Mereka tidak memiliki mimpi menaklukkan wilayah lain. Namun, posisi geografis dan aliansi politik membuat negara kecil ini tidak sepenuhnya bisa menghindari konflik besar Eropa.


Perang Austria–Prusia 1866: Konflik yang Mengubah Eropa

Tahun 1866, Eropa Tengah memanas. Austria dan Prusia terlibat perang besar yang menentukan masa depan wilayah Jerman. Prusia, dengan ambisi Otto von Bismarck, ingin menyatukan negara-negara Jerman di bawah kepemimpinannya.

Austria, sebagai kekuatan lama, menolak tersingkir. Perang pun pecah dan melibatkan banyak negara kecil yang tergabung dalam Konfederasi Jerman—termasuk Liechtenstein.

Sebagai sekutu Austria, Liechtenstein diwajibkan mengirim pasukan. Tidak ada pilihan lain.


80 Tentara: Hampir Seluruh Kekuatan Militer Negara

Ketika perintah mobilisasi datang, Liechtenstein hanya mampu mengirim 80 orang tentara. Angka yang terdengar kecil, namun bagi negara ini, itu hampir mencakup seluruh kekuatan militernya.

Berangkat Perang 80 Orang, Pulang 81: Kisah Liechtenstein dan Satu-Satunya Perang dengan Korban Minus Satu
Berangkat Perang 80 Orang, Pulang 81: Kisah Liechtenstein dan Satu-Satunya Perang dengan Korban Minus Satu


Mereka bukan dikirim ke medan pertempuran utama. Tugas mereka adalah menjaga perbatasan di wilayah Italia Utara, daerah pegunungan yang jauh dari pusat konflik.

Banyak yang berangkat dengan perasaan cemas. Mereka tahu, dalam perang, peluang pulang dengan selamat tidak pernah bisa dijamin.


Medan Tugas yang Sepi dan Sunyi

Namun, kenyataan di lapangan jauh dari bayangan perang berdarah. Hari-hari berlalu tanpa satu pun tembakan. Tidak ada serangan. Tidak ada musuh yang datang.

Para tentara Liechtenstein justru menghabiskan waktu dengan berjaga santai di pegunungan, menikmati udara segar, berbincang satu sama lain, bahkan—menurut berbagai catatan populer— minum anggur sambil menikmati pemandangan alam.

Alih-alih menghadapi kematian, mereka justru mengalami salah satu masa tugas paling tenang dalam sejarah militer.


Perang Usai, Perintah Pulang Datang

Perang Austria–Prusia berlangsung singkat. Dalam hitungan minggu, Prusia keluar sebagai pemenang. Konfederasi Jerman dibubarkan, dan sekutu Austria, termasuk Liechtenstein, mendapat perintah untuk menarik pasukannya.

Bagi tentara Liechtenstein, perintah ini disambut dengan lega. Mereka bersiap pulang ke tanah air, tanpa satu pun kehilangan.


Hitung Ulang di Gerbang Kota

Setibanya di Liechtenstein, sebuah prosedur sederhana dilakukan: menghitung jumlah pasukan.

Awalnya, mereka berangkat dengan 80 orang. Komandan mulai menghitung satu per satu.

Namun, hasilnya membuat semua terdiam.

Jumlahnya bukan 80.
Jumlahnya 81 orang.


Siapakah Orang ke-81?

Pertanyaan itu langsung muncul. Siapa orang tambahan ini?

Menurut cerita yang paling banyak beredar, selama bertugas di pegunungan Italia, pasukan Liechtenstein berteman akrab dengan seorang perwira Austria yang kesepian.

Versi lain menyebutkan bahwa orang tersebut adalah pembelot asal Italia. Namun satu hal yang pasti, ia merasa cukup diterima dan nyaman hingga memutuskan ikut pulang bersama mereka ke Liechtenstein.

Tidak ada penolakan. Tidak ada kecurigaan. Ia diterima sebagai teman.


Perang dengan Korban Minus Satu

Peristiwa ini kemudian dikenal luas sebagai satu-satunya perang dalam sejarah dunia dengan angka kematian minus satu (-1 casualties).

Dalam dunia militer yang identik dengan kematian dan kehancuran, statistik ini terdengar hampir mustahil.

Berangkat 80 orang. Pulang 81 orang.


Bukan Sekadar Cerita Lucu

Meski sering dibagikan sebagai kisah lucu sejarah, cerita Liechtenstein menyimpan makna yang lebih dalam. Ia menunjukkan bahwa perang, seburuk apa pun dampaknya, tetap dijalani oleh manusia biasa yang mampu menjalin persahabatan di tengah konflik.

Di saat negara-negara besar bertarung demi ambisi politik, sekelompok kecil tentara justru menemukan sisi kemanusiaan yang sering hilang dalam narasi perang.


Liechtenstein dan Jalan Netralitas

Pengalaman ini juga berpengaruh pada arah kebijakan Liechtenstein ke depan. Tak lama setelah perang, negara ini membubarkan angkatan bersenjatanya.

Hingga hari ini, Liechtenstein tidak memiliki militer aktif. Keamanannya dijaga melalui diplomasi, netralitas, dan hubungan internasional yang baik.

Pilihan yang jarang diambil, namun terbukti efektif bagi negara kecil tersebut.


Ketika Sejarah Menghadirkan Senyum

Di tengah lautan kisah perang yang penuh tragedi, cerita Liechtenstein hadir sebagai anomali. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih.

Kadang, di sela-sela konflik besar, ada kisah kecil yang hangat, manusiawi, dan mengundang senyum.

Berangkat perang tanpa kehilangan siapa pun, dan pulang dengan satu teman baru.

Mungkin, inilah satu-satunya perang yang layak dikenang bukan karena kematiannya, melainkan karena persahabatan yang lahir di tengah bayang-bayang konflik.

— Navigasi.in

Post a Comment for "Berangkat Perang 80 Orang, Pulang 81: Kisah Liechtenstein dan Satu-Satunya Perang dengan Korban Minus Satu"