Upacara Adat Lampung: Mepadun, Simbol Kehormatan dan Marwah Budaya Pepadun
Navigasi.in – Provinsi Lampung memiliki ragam tradisi adat yang kaya makna. Salah satu upacara sakral yang masih dilestarikan hingga kini adalah Mepadun, yang juga dikenal dengan istilah Cakak Pepadun, Naik Pepadun, atau Munggah Bumi. Upacara ini merupakan bentuk pengukuhan adat bagi seorang laki-laki yang telah berkeluarga secara adat, sekaligus momentum penting untuk menegaskan posisi sosial dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat adat Lampung Pepadun.
![]() |
Upacara Adat Lampung: Mepadun, Simbol Kehormatan dan Marwah Budaya Pepadun |
Upacara Mepadun bukan sekadar seremoni, melainkan wujud pengakuan adat terhadap seseorang yang telah dianggap matang dalam kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, dan berbudaya. Dalam prosesi ini, terdapat berbagai rangkaian kegiatan mulai dari tarian sakral, arak-arakan, hingga puncaknya yaitu penobatan di atas Pepadun – sebuah tahta adat yang sarat makna filosofis.
Prosesi Upacara Mepadun
![]() |
Upacara Adat Lampung: Mepadun, Simbol Kehormatan dan Marwah Budaya Pepadun |
Upacara Mepadun berlangsung dengan rangkaian yang panjang dan penuh simbolisme. Biasanya, acara diawali dengan Cangget Mepadun, yaitu malam tarian adat yang dibawakan oleh para Pegawo (laki-laki yang sudah berkeluarga secara adat). Pada malam itu, para Pegawo menari atau ngigel sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa keselamatan menjelang puncak upacara.
Esok harinya, prosesi dilanjutkan dengan arak-arakan menuju balai adat Sesat Menango Aji, Aneg Penagan Ratu, Lampung Utara. Dalam arak-arakan tersebut, masyarakat turut serta menyaksikan dan mengiringi jalannya prosesi dengan penuh suka cita. Sang Pegawo kemudian melewati prosesi Ngerabbo, hingga akhirnya duduk di atas Pepadun sebagai simbol pengukuhan gelar adat.
Puncak acara adalah pemberian gelar adat Mepadun bagi sang Pegawo dan pasangannya. Dalam dokumentasi kali ini, prosesi Mepadun dianugerahkan kepada H.M. Amperawan bergelar Suttan Pengiran Rajo Guntur Mergo dan istrinya Hj. Riska Netralina bergelar Suttan Ratu Pembayun. Gelar tersebut menandai pengakuan adat terhadap keduanya sebagai tokoh masyarakat yang dihormati.
Apa Itu Pepadun?
Pepadun atau Pepadon adalah tahta adat yang digunakan dalam upacara pengukuhan seorang Penyimbang (pimpinan persekutuan adat) atau Pegawo Tuho (orang yang memasuki fase tua dalam peradatan). Pepadun berbentuk panggung kayu bertingkat yang menjadi simbol kekuasaan, kehormatan, sekaligus tanggung jawab besar.
Pepadun bukan hanya kursi adat, melainkan lambang nilai, norma, dan marwah budaya yang harus dijaga oleh pemiliknya. Menjadi seseorang yang diangkat ke atas Pepadun berarti siap memikul konsekuensi logis, baik berupa tanggung jawab sosial maupun moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Sejarah Pepadun
Ratusan tahun lalu, Pepadun dibuat dari balok kayu besar berdiameter lebih dari satu meter, biasanya dari pohon tua yang berumur ratusan tahun. Kayu tersebut diambil dari hutan adat milik penyimbang atau pemimpin adat setempat. Proses pembuatannya juga tidak sembarangan, melainkan melalui serangkaian tahapan adat, antara lain:
- Tandang Kayew: Mencari kayu di hutan adat.
- Nuwar Kayew: Menebang kayu dengan ritual khusus.
- Narah Kayew: Mengolah kayu menjadi balok.
- Ngulangken Kayew: Membawa balok kayu pulang ke kampung.
- Ngeguai Pepadon: Membentuk balok menjadi Pepadun.
- Nyakaken di atas Sesat: Meletakkan Pepadun di balai adat.
Pada awalnya, Pepadun hanya berbentuk satu tingkat. Namun, seiring perkembangan adat, Pepadun berkembang menjadi dua tingkat untuk menunjukkan status dan kedudukan penyimbang atau Pegawo Tuho yang diangkat.
Kesakralan dan Filosofi Pepadun
Pepadun dianggap sakral dan memiliki kekuatan spiritual. Oleh karena itu, dalam prosesi adat, Pepadun biasanya ditutupi kain untuk menghindari potensi “Nyengek”, yaitu mara bahaya dari alam gaib yang dipercaya dapat ditimbulkan oleh Pepadun. Kain yang digunakan biasanya berupa Kain Andak berwarna putih atau dipadukan dengan Kain Bidak yang menunjukkan tingkatan Pepadun.
Penutupan ini juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian Pepadun. Filosofinya, seseorang yang naik Pepadun harus memiliki kesiapan lahir dan batin, karena sejak saat itu ia akan menjadi panutan dalam masyarakat.
Makna Sosial dan Budaya Mepadun
Upacara Mepadun tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga sarat makna sosial. Prosesi ini menjadi ajang silaturahmi besar masyarakat adat, di mana berbagai lapisan masyarakat hadir untuk menyaksikan dan merayakan pengukuhan tokoh adat baru. Mepadun juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda, agar mereka mengenal, memahami, dan melestarikan adat Lampung Pepadun.
Selain itu, Mepadun menegaskan filosofi hidup masyarakat Lampung yang berlandaskan pada Piil Pesenggiri, yaitu harga diri, kehormatan, dan tanggung jawab sosial. Gelar adat yang diperoleh bukan semata-mata kebanggaan pribadi, melainkan amanah untuk menjaga marwah keluarga, marga, dan komunitas.
Mepadun di Era Modern
Meski zaman telah berubah, upacara Mepadun tetap dijaga kelestariannya. Saat ini, pelaksanaan Mepadun tidak hanya menjadi prosesi adat, tetapi juga bagian dari identitas budaya Lampung yang ditampilkan dalam berbagai festival dan acara budaya nasional. Bahkan, Pepadun kini menjadi simbol kebesaran yang sering muncul dalam seni pertunjukan, dokumentasi sejarah, hingga simbol daerah.
Pemerintah daerah bersama tokoh adat terus mendorong pelestarian tradisi ini melalui berbagai program, seperti festival budaya, pendidikan muatan lokal, hingga dukungan terhadap kegiatan adat. Tujuannya agar generasi muda Lampung tetap bangga dengan warisan leluhur dan tidak tercerabut dari akar budaya mereka.
Syair Arak-arakan Pepadun
Dalam arak-arakan Pepadun, biasanya dinyanyikan syair atau pantun adat yang berisi doa, pujian, dan pesan moral. Syair tersebut menjadi pengiring perjalanan sang Pegawo menuju balai adat. Berikut salah satu tautan dokumentasi syair arak-arakan Pepadun: Klik di sini.
Penutup
Upacara Mepadun merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga dari masyarakat Lampung Pepadun. Lebih dari sekadar prosesi adat, Mepadun adalah simbol kehormatan, tanggung jawab, dan keselarasan hidup. Melalui Pepadun, masyarakat Lampung menjaga marwah adat dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Di era modern ini, menjaga kelestarian Mepadun berarti menjaga identitas dan jati diri masyarakat Lampung. Oleh karena itu, tradisi ini harus terus dijaga, dilestarikan, dan dikenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup sepanjang masa.
Foto: Dokumentasi Rajo Guntur Mergo – Upacara Mepadun di Lampung Utara
Tagar: #budayalampungpepadun #mepadun #adatlampung #navigasiin
Post a Comment for "Upacara Adat Lampung: Mepadun, Simbol Kehormatan dan Marwah Budaya Pepadun"