Siger Lampung: Simbol Kehormatan dan Identitas Budaya Pepadun
Navigasi.in – Lampung tidak hanya dikenal sebagai provinsi dengan kekayaan alam berupa perkebunan kopi, lada, dan hasil laut yang melimpah, namun juga terkenal akan warisan budayanya yang sarat makna. Salah satu simbol budaya yang paling ikonik adalah Siger, mahkota emas atau perhiasan kepala yang dikenakan oleh perempuan Lampung dalam berbagai upacara adat, khususnya dalam prosesi pernikahan dan acara kebesaran. Siger bukan sekadar hiasan, melainkan mengandung filosofi yang mendalam tentang identitas, status, serta nilai luhur masyarakat Lampung Pepadun.
![]() |
Siger Lampung: Simbol Kehormatan dan Identitas Budaya Pepadun |
Apa Itu Siger Lampung?
Siger adalah mahkota adat khas Lampung yang terbuat dari logam mulia seperti kuningan, perak, atau bahkan emas. Bentuknya menyerupai mahkota dengan lekukan khas yang menjulang ke atas. Jumlah lekuk pada siger tidak dibuat secara sembarangan, melainkan memiliki makna simbolis. Pada umumnya, siger Lampung memiliki sembilan lekuk yang melambangkan sembilan aliran sungai besar yang ada di tanah Lampung, tempat bermukimnya masyarakat adat. Dengan demikian, siger bukan hanya perhiasan, tetapi juga representasi dari alam, kehidupan, dan kebesaran budaya Lampung.
Selain itu, siger juga dianggap sebagai simbol keagungan dan kemuliaan perempuan Lampung. Seorang perempuan yang mengenakan siger berarti sedang memegang peranan penting dalam suatu prosesi adat, terutama pernikahan. Keberadaan siger di kepala pengantin perempuan menandakan bahwa ia telah mencapai derajat sebagai perempuan yang dihormati dalam adat.
Makna Filosofis dari Siger
Di balik keindahan bentuk dan kemewahan bahan pembuatannya, siger Lampung menyimpan makna filosofis yang dalam. Beberapa di antaranya adalah:
- Sembilan Lekuk: Melambangkan sembilan aliran sungai besar di Lampung, yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Sungai dalam budaya Lampung juga dimaknai sebagai perekat hubungan antarsuku dan sumber rezeki.
- Kemegahan dan Kemuliaan: Bentuk siger yang menjulang tinggi menunjukkan kemuliaan perempuan Lampung, sekaligus pengingat agar selalu menjunjung tinggi martabat keluarga dan masyarakat.
- Keselarasan: Siger juga mencerminkan nilai keselarasan hidup antara manusia dengan alam, serta manusia dengan manusia. Hal ini sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Lampung yang dikenal dengan Piil Pesenggiri.
- Status Sosial: Pemakaian siger juga menandakan status sosial pemakainya. Siger emas biasanya digunakan dalam acara besar dan oleh keluarga adat yang terpandang.
Jenis-jenis Siger Lampung
Terdapat beberapa jenis siger dalam budaya Lampung, yang masing-masing memiliki fungsi dan makna tersendiri. Di antaranya:
- Siger Gadis: Digunakan oleh perempuan Lampung yang masih gadis atau belum menikah. Siger jenis ini biasanya dipakai dalam acara adat yang melibatkan keikutsertaan para gadis, misalnya tari-tarian adat atau prosesi penyambutan tamu.
- Siger Suhun Bebulang Taji: Dipakai oleh perempuan yang sudah berumah tangga. Jenis siger ini lebih besar, megah, dan biasanya digunakan dalam prosesi pernikahan atau upacara adat besar.
- Siger Pepadun: Jenis siger yang digunakan oleh masyarakat adat Pepadun, salah satu kelompok besar dalam suku Lampung. Pepadun sendiri dikenal memiliki tatanan adat yang ketat.
- Siger Saibatin: Digunakan oleh masyarakat adat Saibatin, kelompok adat Lampung lainnya yang lebih mengutamakan garis keturunan dan pewarisan secara turun-temurun.
Siger dalam Kehidupan Adat dan Pernikahan
Pada pernikahan adat Lampung, kehadiran siger menjadi unsur utama yang tidak boleh dilewatkan. Pengantin perempuan akan mengenakan siger sebagai mahkota yang menandakan dirinya sebagai ratu sehari. Siger dipadukan dengan busana adat Lampung yang penuh dengan hiasan emas, kalung berlapis-lapis, gelang, dan kain tapis yang indah. Kombinasi tersebut menciptakan penampilan yang agung sekaligus memancarkan keanggunan perempuan Lampung.
Sementara itu, pengantin laki-laki juga mengenakan busana adat yang tidak kalah megah, meski tanpa siger. Biasanya, laki-laki memakai kopiah emas dan busana adat lengkap dengan ikat pinggang dan senjata tradisional. Kedua pasangan pengantin tampil bak raja dan ratu, menandakan penyatuan dua keluarga besar dalam ikatan suci pernikahan.
Sejarah dan Perkembangan Siger
Siger sudah digunakan sejak zaman kerajaan-kerajaan di Lampung. Mahkota ini menjadi simbol keagungan perempuan bangsawan. Seiring waktu, penggunaannya meluas ke masyarakat adat sebagai bagian dari upacara penting. Hingga kini, siger masih tetap lestari, bahkan sering ditampilkan dalam berbagai festival budaya, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Menariknya, siger juga telah menjadi ikon Provinsi Lampung. Lambang siger bisa ditemukan pada logo pemerintah daerah, bandara, bahkan gerbang perbatasan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya siger dalam identitas budaya masyarakat Lampung.
Pelestarian Siger di Era Modern
Di tengah arus globalisasi, keberadaan siger tetap dipertahankan. Pemerintah Provinsi Lampung bersama tokoh adat terus berupaya menjaga kelestarian budaya ini melalui berbagai cara, seperti:
- Mengadakan festival budaya Lampung dengan menampilkan siger.
- Memasukkan siger sebagai simbol resmi daerah.
- Mendorong generasi muda untuk mempelajari dan memahami makna siger.
- Melibatkan pengerajin lokal dalam pembuatan siger agar warisan ini tetap hidup.
Siger Sebagai Identitas Perempuan Lampung
Siger bukan hanya hiasan, tetapi juga identitas yang melekat pada perempuan Lampung. Setiap lekukan pada siger mengajarkan tentang tanggung jawab, kehormatan, dan martabat. Perempuan Lampung yang mengenakan siger diharapkan mampu menjaga nama baik keluarga dan masyarakat, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Siger Lampung adalah warisan budaya yang sarat makna. Ia bukan sekadar mahkota, melainkan simbol identitas, kehormatan, dan nilai luhur masyarakat adat. Dengan lekukannya yang indah dan penuh filosofi, siger menjadi bukti bahwa Lampung memiliki tradisi yang kaya dan patut dijaga kelestariannya. Saat ini, siger tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Lampung, tetapi juga menjadi ikon budaya Indonesia yang diakui hingga mancanegara.
Tabiik Pun – Salam hormat dalam budaya Lampung, mari kita terus menjaga dan melestarikan warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Foto: Koleksi Rajo Guntur Mergo – Dokumentasi budaya Lampung Pepadun
Tagar: #budayalampung #siger #adatlampung #navigasiin
Post a Comment for "Siger Lampung: Simbol Kehormatan dan Identitas Budaya Pepadun"