Youtube

Misteri Mayat di Tandon PDAM Semarang, Warga 19 Hari Konsumsi Air Berbau Busuk

Navigasi.in, Semarang – Warga Semarang dikejutkan oleh kabar yang sangat mengejutkan sekaligus mengerikan. Seorang pemuda bernama Dion Kusuma Pratama (20), warga Jalan Satrio Wibowo, Tlogosari, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi sudah tidak bernyawa di dalam reservoir air PDAM Tirta Moedal, tepatnya di Tandon Siranda, Semarang. Penemuan itu terjadi pada 16 Agustus 2025 siang setelah korban dilaporkan menghilang selama 19 hari.

Misteri Mayat di Tandon PDAM Semarang, Warga 19 Hari Konsumsi Air Berbau Busuk
Misteri Mayat di Tandon PDAM Semarang, Warga 19 Hari Konsumsi Air Berbau Busuk


19 Hari Hilang, Berakhir Tragis di Dalam Tandon Air

Dion dilaporkan hilang sejak akhir Juli 2025. Selama lebih dari dua minggu, pihak keluarga, teman, serta aparat berusaha mencari keberadaannya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan korban hingga akhirnya kabar duka itu datang. Dion ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia, terapung di dalam penampungan air yang dikelola oleh PDAM Tirta Moedal.

Menurut keterangan sementara, korban diduga terjatuh ke dalam tandon air ketika dalam kondisi mabuk. Dugaan itu muncul setelah beberapa rekaman CCTV memperlihatkan Dion terakhir kali terlihat dalam keadaan tidak stabil. Namun, polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab pasti kematian korban, apakah murni kecelakaan atau ada indikasi lain.

Kualitas Air PDAM Dipertanyakan

Yang membuat kasus ini semakin menghebohkan adalah fakta bahwa jenazah korban berada di dalam reservoir air selama 19 hari tanpa diketahui. Selama rentang waktu tersebut, warga Kota Semarang tetap menggunakan air PDAM untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga mencuci pakaian.

Banyak warga melaporkan bahwa sejak beberapa hari sebelumnya, air yang mengalir dari keran rumah mereka memiliki bau menyengat dan tidak sedap. Sebagian bahkan menyebut aroma tersebut mirip bau busuk yang menusuk hidung. Namun, mereka tidak menyangka bahwa sumber bau tersebut berasal dari keberadaan mayat di dalam penampungan air.

“Kami sudah curiga dari awal. Airnya keruh, baunya tidak enak. Tapi kami pikir itu karena ada perbaikan pipa atau masalah teknis biasa. Ternyata setelah ada kabar penemuan mayat, kami benar-benar kaget dan tidak percaya,” ujar Siti, salah seorang warga Tlogosari.

Reaksi Warga: Ketakutan, Jijik, dan Trauma

Kabar ini menimbulkan trauma mendalam bagi warga pengguna layanan PDAM. Bagaimana tidak, selama 19 hari mereka tanpa sadar telah menggunakan air yang tercemar oleh jenazah manusia. Sebagian warga merasa jijik, bahkan ada yang mengaku sampai muntah setelah mendengar kabar tersebut.

“Bayangkan, selama hampir tiga minggu kami minum dan masak pakai air itu. Kalau tahu dari awal, kami pasti tidak berani. Ini benar-benar mengerikan,” kata Slamet, warga lain yang juga menggunakan PDAM Tirta Moedal.

Kondisi ini juga memicu keresahan luas, terutama terkait aspek kesehatan. Warga khawatir air yang sudah tercemar tersebut bisa membawa dampak buruk bagi tubuh, termasuk penyakit menular maupun gangguan pencernaan. Beberapa warga bahkan langsung memeriksakan diri ke puskesmas karena takut mengalami keracunan.

PDAM Tirta Moedal Disorot

Kinerja PDAM Tirta Moedal kini menjadi sorotan publik. Banyak pihak mempertanyakan mengapa dalam kurun waktu 19 hari, tidak ada petugas yang melakukan pemeriksaan rutin terhadap kualitas air maupun kondisi tandon. Seharusnya, sebuah perusahaan penyedia air bersih memiliki standar operasional ketat untuk memastikan keamanan pasokan air.

“Bagaimana bisa sebuah mayat berada di dalam reservoir selama hampir tiga minggu tanpa diketahui? Apakah tidak ada petugas yang melakukan pengecekan harian? Ini menunjukkan ada kelalaian besar,” ungkap seorang aktivis lingkungan dari Semarang Watch.

Selain itu, warga juga menuntut PDAM memberikan klarifikasi resmi dan kompensasi, mengingat dampak psikologis dan kesehatan yang dialami pengguna. Tagar #PDAMSemarang dan #AirBauMayat bahkan menjadi trending di media sosial, menandakan luasnya perhatian publik terhadap kasus ini.

Polisi Lakukan Penyelidikan

Pihak kepolisian memastikan bahwa kasus ini tidak hanya berhenti pada penemuan mayat semata. Satreskrim Polrestabes Semarang telah menurunkan tim untuk menyelidiki bagaimana korban bisa masuk ke dalam tandon. Apakah murni karena korban mabuk lalu jatuh, ataukah ada unsur kelalaian lain yang membuat tragedi ini terjadi.

“Kami masih mengumpulkan bukti-bukti, termasuk keterangan saksi dan rekaman CCTV. Untuk sementara dugaan awal korban terjatuh saat mabuk, namun semua kemungkinan masih terbuka,” ujar Kapolrestabes Semarang dalam konferensi pers singkat.

Aspek Kesehatan Warga

Dinas Kesehatan Kota Semarang juga sudah turun tangan untuk melakukan pemeriksaan. Sampel air di berbagai titik distribusi PDAM diambil untuk diuji laboratorium. Selain itu, posko kesehatan didirikan di sejumlah wilayah untuk menampung warga yang ingin melakukan pemeriksaan medis.

Seorang dokter dari RSUD Semarang menjelaskan bahwa konsumsi air yang tercemar oleh jenazah manusia dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi, diare, hingga gangguan pencernaan lainnya. Namun, sejauh ini belum ada laporan resmi mengenai kasus serius akibat konsumsi air tersebut. Meski demikian, langkah preventif tetap dilakukan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan massal.

Pelajaran dari Kasus Tragis Ini

Kasus ini memberikan banyak pelajaran penting, baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Pertama, perlunya pengawasan rutin terhadap fasilitas vital seperti tandon air PDAM. Kedua, warga harus lebih kritis ketika menemukan kejanggalan pada kualitas air, misalnya bau menyengat atau warna keruh, dan segera melapor kepada pihak berwenang. Ketiga, diperlukan sistem keamanan ekstra untuk mencegah orang asing atau bahkan karyawan masuk ke area vital seperti reservoir air.

Tragedi ini juga membuka mata banyak orang bahwa pengelolaan air bersih tidak boleh dianggap sepele. Air adalah kebutuhan dasar, dan jika tercemar, dampaknya bisa meluas hingga mengancam kesehatan ribuan orang.

Suasana Haru Keluarga Korban

Sementara itu, keluarga korban masih diselimuti duka mendalam. Dion dikenal sebagai pemuda yang ramah dan sering nongkrong bersama teman-temannya di sekitar Semarang. Namun, kebiasaannya minum minuman keras kerap membuat keluarganya khawatir. Kini, kepergian Dion menjadi pukulan berat, apalagi dengan cara yang begitu mengenaskan.

“Kami hanya berharap penyelidikan dilakukan secara tuntas. Kami ingin tahu bagaimana sebenarnya dia bisa sampai masuk ke dalam tandon air itu,” ujar ayah korban dengan suara bergetar.

Penutup

Penemuan mayat di tandon PDAM Tirta Moedal Semarang adalah tragedi besar yang menyisakan trauma mendalam bagi warga kota. Selama 19 hari, masyarakat tanpa sadar menggunakan air yang sudah tercemar, menimbulkan rasa jijik, takut, dan khawatir akan dampak kesehatan. Di sisi lain, kasus ini membuka mata bahwa pengawasan terhadap infrastruktur publik, khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan dasar masyarakat, harus ditingkatkan secara maksimal.

Warga kini berharap agar pihak PDAM, pemerintah kota, dan aparat kepolisian benar-benar serius menangani kasus ini, baik dari aspek penyelidikan, perbaikan sistem, maupun perlindungan kesehatan masyarakat. Sebab, kejadian ini tidak hanya soal kehilangan seorang anak muda, tetapi juga menyangkut keselamatan ribuan pengguna air di Semarang.

Reporter: Tim Navigasi.in

Post a Comment for "Misteri Mayat di Tandon PDAM Semarang, Warga 19 Hari Konsumsi Air Berbau Busuk"