Fenomena Sound Horeg di Jawa Timur: Antara Hiburan dan Gangguan
NAVIGASI.IN – Fenomena sound horeg kini tengah mencuri perhatian di Jawa Timur, terutama di daerah Malang dan sekitarnya. Truk dengan menara pembesar suara raksasa yang dihiasi lampu-lampu warna-warni ini sering hadir dalam berbagai acara hajatan, karnaval, hingga pesta rakyat. Namun, di balik gemerlapnya, fenomena ini menimbulkan kontroversi besar karena volume suaranya yang bisa menembus lebih dari 120 desibel, jauh melebihi batas aman bagi pendengaran manusia.
![]() |
Fenomena Sound Horeg di Jawa Timur: Antara Hiburan dan Gangguan |
Asal-usul Sound Horeg
Sound horeg awalnya dikenal sebagai bagian dari tradisi musik jalanan di Jawa Timur. Berawal dari kelompok pemuda yang ingin memeriahkan pesta rakyat dengan musik elektronik modern, fenomena ini kemudian berkembang pesat. Truk yang awalnya hanya membawa beberapa speaker kini berubah menjadi menara raksasa berlapis-lapis, lengkap dengan visualisasi LED, efek lampu, hingga kostum penari pengiring.
![]() |
Fenomena Sound Horeg di Jawa Timur: Antara Hiburan dan Gangguan |
Nama “horeg” sendiri muncul dari kata “hore” yang menggambarkan keriuhan pesta, ditambah nuansa khas Jawa Timur yang sering melekatkan imbuhan untuk memberikan identitas lokal. Dari situlah, “sound horeg” populer digunakan untuk menyebut truk sound system raksasa ini.
Daya Tarik Hiburan Rakyat
Bagi sebagian masyarakat, sound horeg merupakan bentuk hiburan murah meriah yang bisa dinikmati semua kalangan. Musik EDM, campursari remix, hingga dangdut koplo diputar dengan dentuman bass yang menghentak. Anak-anak muda menjadikan sound horeg sebagai ajang unjuk gaya dan tempat berkumpul, sementara sebagian pelaku usaha kecil mendapat keuntungan dari ramainya penonton yang datang ke lokasi acara.
Pentas jalanan dengan sound horeg juga sering dikombinasikan dengan parade kostum, tarian tradisional, hingga atraksi silat. Hal inilah yang membuat sound horeg bukan sekadar hiburan musik, melainkan sebuah fenomena budaya populer baru di pedesaan Jawa Timur.
Kritik dan Kontroversi
Meskipun digemari sebagian kalangan, fenomena ini tidak lepas dari kritik keras. Banyak warga mengeluhkan bahwa dentuman bass yang terlalu kuat menyebabkan kaca jendela rumah retak, genteng beterbangan, bahkan beberapa peralatan elektronik terganggu. Tidak jarang pula warga yang mengalami gangguan tidur karena pesta musik berlangsung hingga dini hari.
Selain itu, masalah keselamatan lalu lintas juga menjadi sorotan. Truk dengan sound horeg yang melintasi jalanan desa sering kali memakan badan jalan, menimbulkan kemacetan, bahkan berisiko kecelakaan. Beberapa kali aparat kepolisian harus turun tangan untuk membubarkan kerumunan dan mengatur jalannya acara.
Fatwa Haram dan Larangan
Di beberapa daerah Jawa Timur, termasuk Malang, sejumlah tokoh masyarakat dan ulama mengeluarkan pernyataan bahwa sound horeg dinyatakan haram. Alasannya jelas, karena fenomena ini lebih banyak menimbulkan mudarat dibandingkan manfaat. Bising yang melampaui batas dianggap mengganggu ketenteraman masyarakat, merusak kesehatan, bahkan bisa membahayakan nyawa jika terjadi kerusuhan akibat kerumunan.
Pemerintah daerah juga mulai mengeluarkan peraturan pembatasan. Beberapa kabupaten melarang keras sound horeg tampil di jalan umum tanpa izin resmi, dan hanya memperbolehkannya dalam acara tertentu dengan batasan waktu serta volume suara. Namun demikian, larangan ini seringkali dilanggar, karena permintaan masyarakat terhadap hiburan semacam ini masih tinggi.
Aspek Kesehatan: Bahaya di Balik Dentuman
Menurut para pakar kesehatan, paparan suara dengan intensitas lebih dari 85 desibel secara terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Sound horeg yang mencapai 120 desibel tentu jauh lebih berbahaya. Pendengar yang terlalu dekat dengan sumber suara bisa mengalami tinnitus (denging di telinga), trauma akustik, hingga kehilangan pendengaran.
Selain gangguan telinga, paparan suara keras juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Rasa cemas, sulit tidur, hingga tekanan darah tinggi bisa terjadi akibat bising berkepanjangan. Tidak heran jika banyak warga menolak keberadaan sound horeg di lingkungannya.
Dimensi Sosial: Antara Tradisi Baru dan Konflik
Fenomena sound horeg memperlihatkan bagaimana budaya populer modern bertemu dengan tradisi masyarakat desa. Di satu sisi, sound horeg menjadi simbol kreativitas anak muda pedesaan dalam menggabungkan teknologi, musik, dan pertunjukan. Namun di sisi lain, ia memunculkan konflik sosial antara mereka yang menikmati hiburan dengan mereka yang merasa terganggu.
Konflik ini bahkan sering berujung pada adu mulut hingga perkelahian antarwarga. Ada yang menganggap keberadaan sound horeg sebagai wujud kebebasan berekspresi, sementara yang lain menilainya sebagai pelanggaran terhadap hak orang lain untuk hidup tenang.
Upaya Mediasi dan Solusi
Beberapa daerah mencoba melakukan mediasi agar fenomena ini tidak menimbulkan konflik berkepanjangan. Salah satunya dengan cara membatasi jam operasi sound horeg, misalnya hanya boleh beroperasi sampai pukul 22.00. Ada pula yang menetapkan lokasi khusus, seperti lapangan desa, agar tidak mengganggu pemukiman warga.
Selain itu, ada wacana untuk menjadikan sound horeg sebagai bagian dari festival budaya yang resmi, sehingga ada regulasi, pengawasan, serta aturan teknis mengenai standar volume suara. Dengan begitu, fenomena ini bisa tetap hidup sebagai hiburan rakyat, namun tidak merugikan masyarakat sekitar.
Fenomena Ekonomi di Balik Sound Horeg
Di balik kontroversinya, sound horeg juga memunculkan peluang ekonomi. Penyedia jasa sound system meraup untung besar dari penyewaan peralatan, sementara pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar lokasi acara juga ikut kecipratan rezeki. Bahkan, ada pula jasa dekorasi, penyewaan kostum, hingga kelompok tari yang terlibat dalam setiap penampilan sound horeg.
Namun, keuntungan ekonomi ini tetap tidak bisa menghapus dampak negatif yang dirasakan sebagian warga. Oleh karena itu, perdebatan mengenai apakah sound horeg lebih banyak membawa manfaat atau mudarat masih terus berlangsung.
Kesimpulan
Fenomena sound horeg di Jawa Timur adalah potret nyata dinamika budaya populer di pedesaan Indonesia. Di satu sisi, ia menghadirkan hiburan, kreativitas, dan peluang ekonomi. Namun di sisi lain, ia menimbulkan kebisingan, gangguan kesehatan, konflik sosial, hingga dinyatakan haram oleh sebagian tokoh masyarakat.
Masa depan sound horeg akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, masyarakat, dan pelaku hiburan menemukan titik temu. Apakah ia akan hilang karena larangan yang ketat, atau justru berkembang menjadi bentuk hiburan rakyat yang lebih tertata dan teratur? Waktu yang akan menjawabnya.
Post a Comment for "Fenomena Sound Horeg di Jawa Timur: Antara Hiburan dan Gangguan"