Jejak Bugis Wajo di Kota Negara: Menelusuri Sejarah Perantauan hingga Marga Bunga Mayang Sungkai
NAVIGASI.IN – Sejarah masyarakat di Lampung tidak hanya terbentuk dari perjalanan kelompok-kelompok adat yang telah lama mendiami wilayah tersebut. Perjalanan sejarah Lampung juga dipengaruhi oleh kedatangan berbagai kelompok masyarakat dari luar daerah, termasuk orang Bugis dari Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai pelaut, pedagang, perantau, dan pembentuk komunitas baru di berbagai wilayah Nusantara.
![]() |
| Jejak Bugis Wajo di Kota Negara: Menelusuri Sejarah Perantauan hingga Marga Bunga Mayang Sungkai |
Salah satu cerita sejarah yang menarik untuk ditelusuri adalah keberadaan masyarakat Bugis di Tiyuh Kota Negara, wilayah Marga Bunga Mayang Sungkai. Berdasarkan keterangan sejarah lisan yang dihimpun dari sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat, termasuk Suntan Ratu Semenguk, komunitas Bugis Kota Negara diyakini memiliki hubungan asal-usul dengan Kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan.
Tradisi lisan tersebut menyebutkan bahwa leluhur masyarakat Bugis Kota Negara datang dari wilayah Sulawesi Selatan sekitar abad ke-16 Masehi. Namun, jika dikaitkan dengan sejarah politik Kerajaan Wajo, Perang Makassar, perkembangan perdagangan antarpulau, serta perpindahan masyarakat Bugis setelah abad ke-17, terdapat sejumlah kemungkinan sejarah yang menarik untuk dianalisis lebih jauh.
Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana orang Bugis dari Sulawesi Selatan dapat sampai ke wilayah pedalaman Lampung Utara? Apakah mereka datang sebagai pedagang, pelaut, pengikut kerajaan, kelompok yang menghindari peperangan, atau bagian dari jaringan perdagangan lada yang menghubungkan Lampung dengan berbagai kerajaan di Nusantara?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan pembacaan sejarah secara menyeluruh. Sejarah Bugis Kota Negara tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, kondisi politik kerajaan-kerajaan di kawasan tersebut, jaringan perdagangan maritim, serta keadaan Way Tulang Bawang yang sejak berabad-abad lalu menjadi salah satu jalur penting aktivitas ekonomi dan politik di Lampung.
Tulisan ini merupakan analisis sejarah berdasarkan bahan wawancara, tradisi lisan, penelusuran sumber tertulis, dan gambaran sejarah kawasan. Beberapa bagian merupakan fakta sejarah yang memiliki dukungan sumber akademik, sementara hubungan langsung antara tokoh-tokoh Bugis Wajo dan leluhur masyarakat Kota Negara masih membutuhkan pembuktian melalui penelitian arsip, silsilah, makam, serta benda peninggalan sejarah.
A. Mengenal Masyarakat Bugis dan Asal-Usul Nama To Ugi
Bugis merupakan salah satu kelompok etnik besar di Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis memiliki sejarah panjang dalam bidang pemerintahan tradisional, perdagangan, pertanian, pelayaran, kesusastraan, serta hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan di Nusantara.
Wilayah persebaran masyarakat Bugis secara historis mencakup daerah Wajo, Bone, Soppeng, Sidenreng Rappang, Luwu, Pinrang, Barru, dan beberapa kawasan lain di Sulawesi Selatan. Dalam perkembangannya, masyarakat Bugis juga memiliki hubungan kekerabatan dan kebudayaan dengan masyarakat Makassar, Mandar, serta kelompok-kelompok lain di kawasan Sulawesi.
Nama Bugis sering dihubungkan dengan sebutan To Ugi, yang berarti orang atau pengikut Ugi. Dalam tradisi asal-usul masyarakat Bugis, nama tersebut dikaitkan dengan sosok La Sattumpugi, seorang penguasa yang dikenal dalam cerita sejarah masyarakat Bugis di wilayah Cina atau Pammana, yang sekarang berada di Kabupaten Wajo.
La Sattumpugi dikenal sebagai tokoh penting dalam tradisi silsilah Bugis. Nama dan kisahnya menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat mengenai asal-usul identitas mereka. Walaupun cerita mengenai tokoh-tokoh awal Bugis banyak bercampur dengan tradisi sastra dan mitologi, kisah tersebut memiliki nilai penting dalam memahami bagaimana masyarakat Bugis membangun identitas sejarahnya.
Dalam tradisi sastra Bugis terdapat karya besar yang dikenal sebagai I La Galigo atau Sureq Galigo. Karya ini memuat kisah mengenai dunia leluhur, kerajaan, hubungan keluarga, perjalanan tokoh-tokoh, dan kehidupan masyarakat Bugis pada masa lampau.
Salah satu tokoh utama dalam kisah tersebut adalah Sawerigading, putra Batara Lattu. Kisah Sawerigading memiliki pengaruh luas dalam kebudayaan masyarakat Bugis dan beberapa masyarakat lain di Sulawesi. Sementara itu, La Galigo merupakan tokoh yang kisahnya menjadi bagian utama dalam karya sastra tersebut.
Perlu dijelaskan bahwa La Galigo bukanlah nama yang dapat dipastikan sebagai pengarang tunggal seluruh karya sastra tersebut. I La Galigo merupakan tradisi sastra panjang yang berkembang melalui penuturan dan penulisan berbagai generasi. Karya ini juga menjadi salah satu warisan sastra terpanjang di dunia.
Keberadaan tradisi sastra tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis telah memiliki sistem kebudayaan yang berkembang jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa. Mereka mempunyai bahasa, adat istiadat, sistem kepemimpinan, hukum adat, serta tradisi pencatatan sejarah melalui lontara.
B. Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan
Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Bugis berkembang melalui sejumlah kerajaan yang memiliki kekuasaan politik dan ekonomi masing-masing. Beberapa kerajaan yang dikenal dalam sejarah Sulawesi Selatan adalah Kerajaan Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidenreng, Rappang, Suppa, dan Sawitto.
Kerajaan-kerajaan tersebut tidak selalu memiliki hubungan yang damai. Mereka menjalin hubungan perdagangan, perkawinan politik, persekutuan militer, dan terkadang terlibat dalam peperangan untuk memperebutkan wilayah serta pengaruh ekonomi.
Kerajaan Luwu dikenal sebagai salah satu kerajaan penting dalam sejarah masyarakat Sulawesi Selatan. Pusat-pusat kekuasaan Luwu mengalami perubahan sepanjang perjalanan sejarahnya. Dalam pembahasan sejarah kuno, perlu dibedakan antara Luwu di Sulawesi Selatan dan Luwuk di kawasan Banggai, Sulawesi Tengah, karena keduanya merupakan wilayah geografis yang berbeda.
Kerajaan Bone kemudian berkembang menjadi kekuatan politik besar. Sementara itu, Wajo dikenal memiliki karakter pemerintahan dan kehidupan sosial yang khas, terutama dalam hal kedudukan adat, kebebasan masyarakat, dan peran dewan dalam menentukan pemimpin.
Hubungan antarkerajaan Bugis mengalami perubahan ketika kekuatan Gowa semakin berkembang. Kerajaan Gowa yang berpusat di kawasan Makassar tumbuh menjadi salah satu kekuatan maritim dan perdagangan terbesar di kawasan timur Nusantara.
Perdagangan rempah-rempah, hasil bumi, dan jalur pelayaran menjadikan Sulawesi Selatan sebagai kawasan yang strategis. Keberadaan pelabuhan, armada kapal, dan jaringan pedagang membuat masyarakat Bugis memiliki kemampuan berhubungan dengan berbagai wilayah di Nusantara.
Dalam keadaan seperti itu, Wajo berkembang sebagai salah satu pusat masyarakat Bugis yang memiliki hubungan erat dengan kegiatan perdagangan dan pelayaran. Karakter inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam memahami persebaran orang Bugis ke berbagai daerah, termasuk kemungkinan kedatangan leluhur masyarakat Bugis Kota Negara di Lampung.
C. Kerajaan Wajo dan Tradisi Kemerdekaan Masyarakat Bugis
Kerajaan Wajo mempunyai sejarah pembentukan yang berkaitan dengan perkembangan beberapa komunitas masyarakat di kawasan Sulawesi Selatan. Dalam tradisi sejarah Wajo, sebelum terbentuknya kerajaan terdapat sejumlah komunitas yang dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal.
Salah satu kisah menyebutkan keberadaan komunitas di sekitar Lampulungeng yang dipimpin oleh Puangnge ri Lampulung. Komunitas tersebut kemudian berkembang dan berpindah ke wilayah Boli. Dalam perkembangan berikutnya, muncul kekuasaan Cinnotabi yang menjadi salah satu fondasi pembentukan Kerajaan Wajo.
Kerajaan Cinnotabi dalam tradisi sejarah Wajo dikaitkan dengan sejumlah penguasa, antara lain La Paukke, We Panangngareng, We Tenrisui, dan La Patiroi. Setelah mengalami perubahan politik dan persoalan kepemimpinan, terbentuklah pemerintahan baru yang kemudian dikenal sebagai Kerajaan Wajo.
La Tenribali dikenal sebagai tokoh yang memiliki peranan penting dalam pembentukan Kerajaan Wajo. Ia menjadi Batara Wajo pertama. Dalam perkembangan berikutnya, sistem pemerintahan mengalami perubahan hingga dikenal dengan gelar Arung Matowa Wajo.
Salah satu hal yang membuat sejarah Wajo menarik adalah kuatnya tradisi pemerintahan berdasarkan adat dan kesepakatan. Kerajaan Wajo tidak hanya dipahami sebagai milik raja, tetapi juga sebagai sebuah negeri yang memiliki hubungan erat antara penguasa, dewan adat, dan masyarakat.
Dalam tradisi Wajo dikenal lembaga adat Arung Patappuloe yang terdiri atas empat puluh anggota. Lembaga ini mempunyai kedudukan penting dalam sistem pemerintahan tradisional dan proses penentuan pemimpin.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa sistem politik Wajo memiliki unsur musyawarah dan pembatasan kekuasaan. Raja tidak semata-mata memiliki kekuasaan tanpa batas, melainkan harus memperhatikan adat dan kesepakatan yang berlaku.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah politik Wajo adalah perjanjian yang dikenal sebagai Mallamungpatue ri Lapadeppa. Perjanjian ini sering dikaitkan dengan tahun 1476 dan menjadi bagian penting dalam ingatan sejarah mengenai hak-hak masyarakat Wajo.
Dalam tradisi tersebut terdapat prinsip bahwa masyarakat Wajo mempunyai kebebasan untuk menyampaikan pendapat, melakukan perjalanan, dan menentukan pilihan hidup. Kebebasan itu tetap disertai kewajiban menghormati hak orang lain serta menaati hukum adat.
Salah satu ungkapan yang terkenal dalam tradisi Wajo adalah:
“Maradeka to WajoE, taro pasoro gau'na, naisseng alena, ade'na napopuang.”
Artinya, orang Wajo adalah orang merdeka, bertanggung jawab atas perbuatannya, mengenal dirinya sendiri, dan menjadikan adat sebagai pegangan.
Nilai kemerdekaan tersebut penting untuk dipahami karena dapat menjelaskan salah satu karakter sosial masyarakat Bugis. Dalam sejarah perantauan, banyak orang Bugis memilih meninggalkan daerah asal untuk mencari kehidupan baru, membuka usaha, membangun permukiman, atau mempertahankan kebebasan hidup mereka.
D. Perang Antarkerajaan dan Perubahan Politik Sulawesi Selatan
Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, kawasan Sulawesi Selatan mengalami perubahan politik yang cukup besar. Kerajaan Bone, Gowa, Wajo, Soppeng, dan Luwu memiliki kepentingan masing-masing dalam menguasai wilayah, jalur perdagangan, dan sumber daya ekonomi.
Persaingan tersebut tidak hanya berhubungan dengan perebutan tanah. Sungai, danau, pelabuhan, jalur perdagangan, dan pusat produksi hasil bumi memiliki nilai strategis bagi kerajaan-kerajaan yang berkembang pada masa itu.
Dalam perkembangan politik tersebut muncul persekutuan yang dikenal sebagai Tellumpoccoe, yaitu persekutuan tiga kerajaan Bugis yang terdiri dari Bone, Wajo, dan Soppeng. Persekutuan ini dibentuk dalam konteks hubungan politik dan keamanan antarkerajaan.
Di sisi lain, Kerajaan Gowa terus memperluas pengaruhnya. Hubungan antara Gowa dan kerajaan-kerajaan Bugis mengalami perubahan sesuai dengan kepentingan politik pada masa tertentu. Ada masa ketika mereka bekerja sama, tetapi ada pula masa ketika terjadi peperangan.
Ketika Islam mulai berkembang di Sulawesi Selatan pada awal abad ke-17, hubungan politik antarkerajaan juga mengalami perubahan. Kerajaan Gowa menjadi pusat penting penyebaran Islam di kawasan tersebut.
Perkembangan agama Islam berlangsung melalui hubungan diplomatik, dakwah, dan peperangan yang dikenal dalam tradisi sejarah setempat sebagai Musu Sellengnge atau perang pengislaman.
Wajo kemudian menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1610, pada masa pemerintahan Arung Matowa La Sangkuru Patau Mulajaji yang dikenal dengan gelar Sultan Abdurrahman.
Peristiwa tersebut merupakan tonggak penting dalam sejarah Wajo. Islam kemudian berkembang dalam kehidupan masyarakat, pemerintahan, hukum, dan adat istiadat. Peran ulama seperti Datuk Sulaiman menjadi bagian penting dalam proses penguatan kehidupan keagamaan di kerajaan tersebut.
E. Perang Makassar dan Awal Gelombang Besar Perantauan Bugis
Untuk memahami kemungkinan perjalanan leluhur Bugis menuju Lampung, salah satu peristiwa sejarah yang penting adalah Perang Makassar pada 1666–1669.
Perang ini melibatkan Kerajaan Gowa yang didukung oleh sejumlah kekuatan sekutunya, termasuk Wajo, berhadapan dengan VOC dan pasukan yang bersekutu dengan Belanda, termasuk kekuatan Bone di bawah pengaruh Arung Palakka.
Perang tersebut merupakan bagian dari persaingan kekuasaan dan perdagangan di kawasan Sulawesi Selatan. VOC berusaha memperkuat kendali atas perdagangan laut, sedangkan Gowa dan sekutunya berusaha mempertahankan kedudukan politik serta kepentingan perdagangan mereka.
Dalam konflik tersebut, Wajo memainkan peranan penting. Penelitian sejarah di Universitas Hasanuddin mengenai Kerajaan Wajo dalam Perang Makassar menjelaskan keterlibatan Wajo dalam membantu Gowa dan menghadapi kekuatan Bone serta VOC.
Perjanjian Bongaya ditandatangani pada 18 November 1667. Perjanjian tersebut menjadi salah satu titik penting perubahan kekuasaan di Sulawesi Selatan. Namun, perlawanan belum sepenuhnya berhenti setelah penandatanganan perjanjian.
Perang berlanjut hingga 1669 dan berakhir dengan semakin kuatnya dominasi VOC terhadap kawasan Makassar. Perubahan politik tersebut menimbulkan dampak besar bagi masyarakat yang sebelumnya mempunyai hubungan dengan kerajaan yang kalah.
Bagi sebagian masyarakat Bugis, keadaan politik yang berubah mendorong mereka mencari wilayah baru. Ada yang tetap bertahan di Sulawesi Selatan, ada yang bergabung dengan kekuatan kerajaan lain, dan ada pula yang memilih merantau ke berbagai pulau.
Perantauan bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat Bugis. Tradisi pelayaran dan perdagangan sudah berkembang sebelum Perang Makassar. Akan tetapi, konflik politik dan perubahan kekuasaan dapat mempercepat perpindahan sebagian kelompok masyarakat.
Karena itu, Perang Makassar dapat dipahami sebagai salah satu faktor penting dalam perkembangan jaringan diaspora Bugis di Nusantara, meskipun tidak berarti seluruh masyarakat Bugis yang merantau meninggalkan daerah asal karena peperangan.
F. Tradisi Merantau Orang Wajo ke Berbagai Wilayah Nusantara
Setelah Perang Makassar, sebagian masyarakat Bugis Wajo membangun kehidupan baru di berbagai wilayah. Kemampuan berlayar, berdagang, membangun hubungan politik, dan beradaptasi dengan masyarakat setempat menjadi modal penting dalam perjalanan mereka.
Salah satu contoh yang sering disebut dalam sejarah perantauan Bugis adalah kedatangan rombongan yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona ke wilayah Kutai di Kalimantan Timur.
Dalam sejarah resmi Kota Samarinda, rombongan Bugis Wajo tersebut dikaitkan dengan perpindahan setelah Perang Makassar. Mereka diterima oleh penguasa Kutai dan memperoleh kesempatan membuka permukiman di wilayah yang kemudian berkembang menjadi bagian penting dari sejarah Samarinda.
La Mohang Daeng Mangkona dikenal dengan gelar Pua Ado. Kisah tersebut memperlihatkan bahwa perpindahan masyarakat Bugis dapat berlangsung melalui kesepakatan dengan penguasa lokal.
Rombongan pendatang tidak selalu datang untuk berperang atau menaklukkan daerah baru. Mereka juga dapat berperan sebagai petani, nelayan, pedagang, pelaut, pekerja, dan mitra politik penguasa setempat.
Selain Kalimantan, masyarakat Bugis juga memiliki hubungan sejarah dengan berbagai kerajaan di kawasan Sumatera dan Semenanjung Melayu. Mereka terlibat dalam jaringan perdagangan dan hubungan politik dengan wilayah Riau, Johor, Selangor, serta sejumlah kawasan pesisir lainnya.
Di beberapa tempat, orang Bugis bahkan memperoleh kedudukan penting dalam pemerintahan kerajaan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Bugis mampu membangun hubungan sosial dan politik dengan kelompok masyarakat lain.
Namun, sejarah perantauan Bugis tidak dapat disederhanakan hanya sebagai kisah perjuangan atau perdagangan. Dalam beberapa periode, terdapat pula kelompok yang terlibat dalam konflik bersenjata, perebutan kekuasaan, dan aktivitas perompakan laut. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari situasi politik dan keamanan maritim yang kompleks pada masa itu, bukan gambaran seluruh masyarakat Bugis.
Dengan memahami keragaman tersebut, kita dapat melihat bahwa orang Bugis yang merantau ke Lampung mungkin memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda. Mereka bisa datang sebagai pedagang, pelaut, pengikut penguasa, atau keluarga yang membangun kehidupan baru.
G. Way Tulang Bawang sebagai Jalur Perdagangan dan Pertemuan Berbagai Bangsa
Jika perjalanan orang Bugis menuju Kota Negara dikaitkan dengan sejarah Lampung, maka Way Tulang Bawang merupakan salah satu kawasan yang patut diperhatikan.
Sungai Tulang Bawang sejak masa lampau mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Lampung. Sungai ini menghubungkan kawasan pedalaman dengan wilayah pesisir dan menjadi jalur transportasi bagi manusia serta hasil bumi.
Sebelum berkembangnya jalan darat modern, sungai mempunyai fungsi yang sangat besar. Perahu menjadi sarana utama untuk membawa hasil pertanian, hasil hutan, barang dagangan, dan kebutuhan masyarakat.
Di sepanjang aliran sungai terdapat permukiman masyarakat adat, tempat perdagangan, dan wilayah yang dipimpin oleh para penyimbang. Aktivitas tersebut membuat kawasan Tulang Bawang menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok masyarakat.
Wilayah Menggala dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting. Lada menjadi komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena permintaannya datang dari berbagai jaringan perdagangan internasional.
Kesultanan Banten mempunyai hubungan erat dengan perdagangan lada Lampung. Pada abad ke-16 hingga abad ke-18, Lampung menjadi salah satu pemasok lada penting bagi Banten. Hubungan tersebut tidak hanya melibatkan perdagangan, tetapi juga pengaruh politik dan pengawasan terhadap produksi lada.
Penelitian mengenai hubungan Lampung dan Banten dalam perdagangan lada abad ke-16 sampai abad ke-18 menjelaskan bahwa hubungan keduanya mengalami perubahan. Pada awalnya terdapat kerja sama, kemudian berkembang menjadi hubungan yang semakin tidak seimbang karena Banten berusaha mengendalikan produksi dan perdagangan lada.
Komoditas lada menjadikan Lampung dikenal dalam jaringan perdagangan yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Semenanjung Melayu, dan kawasan lain di Asia.
Para pedagang dari berbagai daerah memiliki kepentingan terhadap komoditas tersebut. Mereka datang untuk membeli hasil bumi, membawa barang dari daerah lain, atau menjalin hubungan dengan pemimpin lokal.
Dalam konteks tersebut, kehadiran orang Bugis di kawasan Way Tulang Bawang sangat mungkin berkaitan dengan jaringan perdagangan maritim. Namun, kemungkinan tersebut masih perlu dibuktikan melalui dokumen perdagangan, catatan perjalanan, silsilah keluarga, dan bukti peninggalan di lapangan.
H. Persaingan Banten, Palembang, dan VOC di Tulang Bawang
Sejarah Tulang Bawang juga berkaitan dengan persaingan pengaruh antara Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang, dan VOC.
Banten memiliki kepentingan besar terhadap perdagangan lada Lampung. Sementara itu, Palembang juga mempunyai kepentingan terhadap kawasan sungai dan wilayah yang berhubungan dengan jalur perdagangan di bagian timur Sumatera.
Persaingan tersebut menyebabkan Tulang Bawang menjadi kawasan strategis. Pengaruh politik dapat berubah sesuai dengan kekuatan militer, perjanjian, hubungan keluarga, dan kepentingan perdagangan.
VOC kemudian semakin aktif dalam perdagangan lada dan berusaha memperkuat pengawasan terhadap jalur distribusinya. Kehadiran VOC tidak hanya berlangsung melalui aktivitas perdagangan, tetapi juga pembangunan benteng dan fasilitas pengawasan.
Dalam sejumlah catatan sejarah lokal disebutkan keberadaan Benteng Petrus Albertus di kawasan Menggala. Pembangunan benteng tersebut dikaitkan dengan kepentingan pertahanan dan perdagangan kolonial.
Namun, tahun pembangunan, penghancuran, dan pembangunan ulang benteng dalam berbagai narasi sejarah perlu dibandingkan dengan arsip kolonial agar urutan kronologinya tidak keliru.
Persaingan Banten dan Palembang memperlihatkan bahwa masyarakat di sekitar Way Tulang Bawang hidup dalam lingkungan politik yang dinamis. Keadaan tersebut dapat menciptakan peluang ekonomi bagi pedagang dan pendatang, tetapi juga menimbulkan risiko konflik.
Orang-orang yang mempunyai kemampuan berlayar dan berdagang dapat memanfaatkan perubahan tersebut untuk membangun hubungan dengan berbagai pihak. Masyarakat Bugis, yang mempunyai tradisi maritim, termasuk kelompok yang berpotensi terlibat dalam jaringan perdagangan tersebut.
I. Mengapa Orang Bugis Bisa Sampai ke Kota Negara, Marga Bunga Mayang Sungkai?
Inilah pertanyaan utama dalam penelitian mengenai sejarah Bugis Kota Negara.
Berdasarkan keterangan tokoh masyarakat dan tradisi lisan yang berkembang di Kota Negara, leluhur komunitas Bugis setempat diyakini berasal dari Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Cerita tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah masyarakat Bugis yang hidup di kawasan Marga Bunga Mayang Sungkai.
Untuk memahami perjalanan tersebut, terdapat beberapa kemungkinan jalur sejarah yang dapat dianalisis.
1. Jalur perdagangan melalui pesisir Sumatera
Orang Bugis dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang memiliki jaringan hubungan antarpulau. Perjalanan dari Sulawesi Selatan menuju Sumatera dapat berlangsung melalui sejumlah pelabuhan dan pusat perdagangan yang telah berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan Nusantara.
Dalam perjalanan tersebut, pedagang dapat singgah di berbagai tempat untuk melakukan transaksi, memperbaiki kapal, memperoleh bahan makanan, atau membangun hubungan dengan masyarakat lokal.
Jika sebagian orang Bugis telah memiliki hubungan perdagangan dengan wilayah pesisir Sumatera, bukan hal yang mustahil apabila mereka kemudian bergerak menuju kawasan Lampung.
Namun, jalur pasti yang digunakan leluhur Bugis Kota Negara belum dapat dipastikan. Dibutuhkan sumber primer seperti catatan perjalanan, dokumen perdagangan, atau cerita silsilah yang memiliki keterhubungan waktu dan nama tokoh.
2. Jalur perdagangan lada Way Tulang Bawang
Way Tulang Bawang mempunyai daya tarik ekonomi karena menjadi jalur pengangkutan hasil bumi, terutama lada dan hasil hutan.
Pedagang yang datang dari luar daerah mempunyai alasan untuk menetap sementara atau membangun hubungan dengan masyarakat setempat. Mereka dapat menjadi perantara perdagangan, pembeli hasil bumi, atau mitra ekonomi para pemimpin lokal.
Apabila leluhur Bugis Kota Negara datang melalui jaringan perdagangan tersebut, mereka kemungkinan pertama kali membangun hubungan dengan kawasan yang memiliki akses terhadap sungai dan pusat perdagangan.
Setelah memperoleh hubungan sosial dan ekonomi, sebagian keluarga dapat berpindah menuju kawasan pedalaman untuk membuka lahan, membangun permukiman, atau menjalin hubungan perkawinan dengan masyarakat adat.
Hipotesis ini menarik karena menjelaskan bagaimana sebuah komunitas yang berasal dari wilayah pesisir atau pelayaran dapat berkembang menjadi masyarakat yang tinggal di pedalaman.
3. Perpindahan akibat perubahan politik di Sulawesi Selatan
Perang Makassar dan perubahan kekuasaan setelah Perjanjian Bongaya merupakan peristiwa penting yang dapat menjadi latar belakang perpindahan sebagian orang Bugis.
Sejumlah kelompok meninggalkan wilayah asal untuk mencari tempat yang lebih aman dan kesempatan hidup baru. Ada pula yang memilih merantau karena tidak ingin berada di bawah kekuasaan politik yang baru.
Apabila leluhur masyarakat Bugis Kota Negara termasuk kelompok yang melakukan perpindahan tersebut, kedatangan mereka mungkin terjadi dalam gelombang perantauan setelah abad ke-17.
Namun, tradisi lisan yang menyebut kedatangan pada abad ke-16 tidak boleh langsung dianggap salah. Ada kemungkinan hubungan Bugis dengan Lampung sudah terbentuk sebelum Perang Makassar, kemudian berkembang melalui kedatangan keluarga-keluarga berikutnya.
Karena itu, penelitian harus membedakan antara kedatangan kelompok pertama, pembentukan permukiman, dan perkembangan komunitas Bugis yang kemudian dikenal sebagai Bugis Kota Negara.
4. Hubungan dengan masyarakat adat Lampung
Kedatangan kelompok pendatang ke wilayah yang telah memiliki masyarakat adat biasanya membutuhkan proses penyesuaian sosial.
Dalam masyarakat Lampung, hubungan kekerabatan, adat, kepemimpinan, dan penguasaan wilayah mempunyai kedudukan penting. Pendatang yang ingin menetap harus membangun hubungan dengan pemimpin adat dan masyarakat yang telah lebih dahulu tinggal di kawasan tersebut.
Hubungan tersebut dapat berlangsung melalui perdagangan, perkawinan, kerja sama membuka lahan, atau kesepakatan sosial lainnya.
Apabila leluhur Bugis Kota Negara berhasil membangun komunitas yang bertahan hingga sekarang, hal tersebut menunjukkan adanya proses integrasi sosial yang cukup panjang.
Dalam perjalanan waktu, identitas asal Bugis dapat tetap dipertahankan, sementara masyarakatnya juga menjadi bagian dari lingkungan adat dan sosial Lampung.
J. Kota Negara dan Identitas Sejarah Bugis Semenguk
Kota Negara mempunyai arti penting dalam pembahasan sejarah lokal karena menjadi tempat berkembangnya komunitas Bugis yang dikaitkan dengan Marga Bunga Mayang Sungkai.
Nama Semenguk dalam tradisi masyarakat setempat juga menjadi bagian dari identitas sejarah yang perlu diteliti secara khusus. Keterangan mengenai tokoh-tokoh adat seperti Suntan Ratu Semenguk merupakan salah satu sumber awal untuk memahami bagaimana sejarah tersebut diwariskan antargenerasi.
Dalam penelitian sejarah lokal, tokoh adat mempunyai peranan penting. Mereka sering menjadi penyimpan informasi mengenai silsilah keluarga, asal-usul kampung, hubungan perkawinan, nama leluhur, makam tua, serta cerita mengenai perpindahan penduduk.
Informasi tersebut tidak boleh diabaikan hanya karena tidak seluruhnya tercatat dalam dokumen pemerintah atau arsip kolonial. Tradisi lisan dapat menjadi sumber sejarah yang sangat berharga, terutama untuk wilayah yang belum banyak memiliki dokumentasi tertulis.
Namun, tradisi lisan tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan sumber lainnya. Keterangan dari seorang tokoh adat sebaiknya dicatat secara lengkap, kemudian dibandingkan dengan cerita keluarga lain, dokumen silsilah, tulisan pada makam, dan bukti material yang ditemukan.
Jika terdapat perbedaan keterangan mengenai nama leluhur atau waktu kedatangan, perbedaan itu justru dapat menjadi petunjuk untuk melakukan penelitian lebih mendalam.
Misalnya, apabila satu keluarga menyebut kedatangan leluhur pada abad ke-16, sementara keluarga lain menyebut abad ke-17, peneliti perlu mencari tahu apakah kedua cerita tersebut mengacu kepada tokoh yang berbeda atau gelombang migrasi yang berbeda.
Dengan cara tersebut, sejarah Bugis Kota Negara dapat disusun lebih terperinci dan tidak hanya bergantung pada satu versi cerita.
K. Makam Tua dan Peninggalan sebagai Petunjuk Sejarah
Salah satu langkah penting untuk membuktikan sejarah Bugis Kota Negara adalah melakukan penelitian terhadap makam-makam tua yang berada di wilayah tersebut.
Makam dapat memberikan berbagai petunjuk mengenai kehidupan masyarakat pada masa lampau. Nama yang terukir pada batu nisan, bentuk nisan, bahan yang digunakan, pola hiasan, serta tulisan Arab atau aksara lainnya dapat membantu memperkirakan periode kehidupan seseorang.
Dalam tradisi masyarakat Islam di Nusantara, bentuk makam dan nisan sering memiliki ciri khas berdasarkan periode dan lingkungan kebudayaan tertentu. Beberapa bentuk nisan dapat memperlihatkan hubungan budaya dengan wilayah pesisir Sumatera, Jawa, Sulawesi, atau kawasan lain.
Meski demikian, bentuk makam saja tidak cukup untuk menentukan bahwa seseorang berasal dari Wajo. Penelitian harus membandingkan bentuk tersebut dengan peninggalan makam di daerah asal yang diduga memiliki hubungan.
Apabila ditemukan nama leluhur dengan gelar yang dikenal dalam tradisi Bugis, hal tersebut dapat menjadi petunjuk tambahan. Akan tetapi, gelar seperti Daeng, Andi, Arung, atau nama-nama lain harus dianalisis berdasarkan konteks sejarahnya.
Selain makam, penelitian dapat dilakukan terhadap bangunan lama, benda pusaka, peralatan rumah tangga, senjata tradisional, naskah keluarga, dan peninggalan lainnya.
Dokumentasi sebaiknya dilakukan melalui foto beresolusi tinggi, pengukuran, pencatatan lokasi, serta wawancara dengan keluarga yang mengetahui sejarah benda tersebut.
Jika terdapat naskah lontara atau dokumen keluarga, naskah tersebut perlu diperiksa oleh orang yang memahami bahasa dan aksara Bugis. Pembacaan yang keliru dapat menghasilkan kesimpulan sejarah yang tidak tepat.
L. Pabbicara dan Sistem Kepemimpinan dalam Tradisi Bugis
Dalam tradisi masyarakat Bugis dikenal berbagai istilah yang berkaitan dengan pemerintahan dan kepemimpinan adat. Salah satunya adalah Pabbicara.
Istilah tersebut berkaitan dengan fungsi pembicaraan, pertimbangan, atau kedudukan tertentu dalam lingkungan pemerintahan tradisional, meskipun makna dan kewenangannya dapat berbeda menurut kerajaan serta periode sejarah.
Keberadaan tokoh yang disebut Pabbicara dalam dokumentasi sejarah Bugis Kota Negara dapat menjadi bahan penelitian yang menarik. Foto tokoh, silsilah, gelar, serta cerita mengenai jabatan yang pernah diemban perlu dikumpulkan secara sistematis.
Apabila terdapat hubungan antara gelar atau jabatan yang dikenal dalam tradisi Wajo dengan tradisi masyarakat Bugis Kota Negara, hal tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai asal-usul kelompok pendatang.
Namun, kesamaan gelar tidak otomatis membuktikan hubungan keluarga langsung. Gelar tertentu dapat digunakan secara luas dalam lingkungan masyarakat Bugis dan tidak hanya dimiliki satu keluarga.
Oleh sebab itu, penelitian mengenai Pabbicara perlu dilengkapi dengan data silsilah dan cerita mengenai hubungan antara tokoh-tokoh tersebut dengan leluhur komunitas di Kota Negara.
M. Menguji Keterangan Kedatangan pada Abad ke-16
Salah satu bagian paling menarik dari cerita sejarah Bugis Kota Negara adalah keterangan bahwa leluhurnya datang sekitar abad ke-16.
Jika keterangan ini benar, maka kedatangan tersebut terjadi sebelum Perang Makassar yang berlangsung pada 1666–1669. Artinya, perpindahan awal tidak harus dikaitkan dengan kekalahan Wajo dalam perang tersebut.
Pada abad ke-16, Sulawesi Selatan telah memiliki kerajaan-kerajaan yang aktif dalam perdagangan dan hubungan maritim. Sementara itu, Lampung mulai memiliki hubungan perdagangan yang semakin penting dengan Kesultanan Banten.
Perdagangan lada membuat kawasan Lampung semakin terhubung dengan jaringan ekonomi regional dan internasional. Aktivitas tersebut membuka peluang bagi pedagang dari berbagai daerah untuk datang dan membangun hubungan dengan masyarakat setempat.
Oleh karena itu, kedatangan orang Bugis ke Lampung pada abad ke-16 secara umum merupakan kemungkinan yang dapat diterima dalam konteks sejarah maritim Nusantara.
Namun, terdapat perbedaan antara membuktikan bahwa orang Bugis telah hadir di Lampung pada abad ke-16 dan membuktikan bahwa leluhur tertentu dari Kota Negara datang pada masa yang sama.
Untuk membuktikan hal kedua, diperlukan bukti yang lebih spesifik. Misalnya, silsilah yang mencantumkan nama dan generasi, catatan tertulis, makam yang dapat diperkirakan usianya, atau sumber sejarah lain yang menyebutkan tokoh dan lokasi secara jelas.
Jika bukti tersebut belum tersedia, keterangan abad ke-16 sebaiknya ditulis sebagai tradisi sejarah lisan atau perkiraan kedatangan awal, bukan sebagai tanggal yang sudah dipastikan secara akademik.
Pendekatan ini justru akan memperkuat kualitas tulisan sejarah karena pembaca dapat membedakan antara informasi yang telah teruji dan informasi yang masih membutuhkan penelitian.
N. Mengapa Sejarah Bugis Kota Negara Penting bagi Lampung?
Sejarah Bugis Kota Negara tidak hanya penting bagi masyarakat keturunan Bugis. Sejarah tersebut juga menjadi bagian dari sejarah sosial dan kebudayaan Lampung.
Lampung sejak masa lampau telah menjadi wilayah pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Hubungan perdagangan, perkawinan, perpindahan penduduk, dan perkembangan agama membentuk masyarakat yang memiliki latar belakang kebudayaan beragam.
Masyarakat adat Lampung mempunyai sistem kekerabatan dan pemerintahan tradisional yang kuat. Kehadiran kelompok pendatang tidak serta-merta menghilangkan identitas adat setempat, tetapi dapat menghasilkan hubungan sosial yang saling memengaruhi.
Dalam konteks Kota Negara, sejarah komunitas Bugis dapat membantu menjelaskan bagaimana identitas asal Sulawesi Selatan bertahan di lingkungan masyarakat Lampung.
Hal ini juga memperlihatkan bahwa sejarah sebuah wilayah tidak selalu terbentuk dari satu kelompok masyarakat saja. Ada perjalanan panjang yang melibatkan penduduk asli, pendatang, pedagang, pemimpin adat, dan keluarga yang membangun kehidupan bersama.
Penelitian semacam ini dapat memperkaya sejarah lokal Lampung Utara, khususnya wilayah Sungkai dan Marga Bunga Mayang.
Selain itu, sejarah tersebut dapat menjadi bahan pendidikan bagi generasi muda. Mereka dapat mengenal asal-usul keluarga, memahami hubungan antarkelompok masyarakat, dan menghargai warisan budaya yang diwariskan oleh para leluhur.
O. Langkah Penelitian untuk Mengungkap Sejarah Asli Bugis Kota Negara
Agar sejarah Bugis Kota Negara dapat disusun secara lebih kuat, diperlukan penelitian lapangan yang terarah. Penelitian tersebut sebaiknya tidak hanya mengandalkan cerita yang beredar, tetapi juga melakukan pengumpulan dan pemeriksaan berbagai jenis sumber sejarah.
1. Wawancara tokoh adat dan keturunan leluhur
Wawancara perlu dilakukan terhadap tokoh adat, keluarga tua, keturunan tokoh yang disebut dalam cerita, dan masyarakat yang mengetahui sejarah pembentukan permukiman.
Setiap wawancara sebaiknya direkam dan ditranskripsikan. Peneliti perlu mencatat nama narasumber, hubungan kekerabatan, tanggal wawancara, serta sumber informasi yang mereka gunakan.
Pertanyaan penting antara lain siapa nama leluhur pertama, dari daerah mana mereka berasal, kapan tiba, siapa yang datang bersama mereka, bagaimana perjalanan dilakukan, serta dengan siapa mereka pertama kali membangun hubungan di Lampung.
2. Menyusun pohon silsilah keluarga
Pohon silsilah merupakan salah satu alat penting untuk menguji cerita perpindahan masyarakat. Nama leluhur perlu disusun dari generasi tertua yang masih dapat diketahui hingga generasi sekarang.
Jika ditemukan nama tokoh yang sama dalam beberapa keluarga, hubungan kekerabatannya dapat ditelusuri lebih lanjut.
Silsilah juga perlu membedakan nama asli, gelar adat, nama panggilan, dan nama setelah memeluk Islam apabila terdapat perubahan nama.
3. Mendokumentasikan makam dan peninggalan sejarah
Makam tua di Kota Negara dan kawasan sekitarnya perlu didata. Setiap makam dapat diberi nomor dokumentasi, difoto, diukur, serta dicatat informasi mengenai tulisan yang masih terbaca.
Penelitian harus dilakukan dengan menghormati makam dan ketentuan adat serta agama. Tidak perlu memindahkan atau merusak benda peninggalan hanya untuk memperoleh informasi.
4. Membandingkan sumber Lampung dan Sulawesi Selatan
Penelitian sebaiknya tidak hanya dilakukan di Lampung. Arsip dan sumber sejarah di Kabupaten Wajo serta wilayah lain di Sulawesi Selatan juga penting untuk ditelusuri.
Perbandingan tersebut dapat membantu mengetahui apakah nama tokoh, gelar, atau hubungan keluarga yang disebut dalam cerita Kota Negara memiliki kecocokan dengan tradisi sejarah Wajo.
5. Menelusuri arsip perdagangan dan kolonial
Dokumen perdagangan lada, catatan VOC, laporan perjalanan, serta arsip pemerintahan kolonial dapat memberikan informasi mengenai aktivitas masyarakat pendatang di Lampung.
Dokumen tersebut mungkin tidak selalu menyebut Kota Negara secara langsung. Namun, informasi tentang jalur perdagangan, permukiman, dan hubungan antarkelompok dapat membantu menjelaskan konteks kedatangan masyarakat Bugis.
6. Melakukan penelitian lintas generasi
Penelitian sejarah keluarga perlu dilakukan dengan melibatkan generasi tua dan muda. Orang tua biasanya mengetahui cerita yang tidak lagi dikenal oleh generasi berikutnya.
Apabila informasi tersebut tidak segera dicatat, terdapat risiko hilangnya pengetahuan sejarah ketika para pemilik cerita meninggal dunia.
Karena itu, dokumentasi sejarah Bugis Kota Negara perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui tulisan, foto, rekaman wawancara, dan arsip digital.
P. Kesimpulan: Bugis Kota Negara sebagai Bagian dari Sejarah Panjang Perantauan Nusantara
Sejarah Bugis Kota Negara, Marga Bunga Mayang Sungkai, merupakan bagian menarik dari perjalanan panjang masyarakat Bugis di Nusantara.
Tradisi lisan yang disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, termasuk keterangan mengenai asal-usul dari Kerajaan Wajo, menjadi titik awal penting untuk mengungkap hubungan antara Sulawesi Selatan dan Lampung.
Sejarah Wajo memperlihatkan adanya tradisi kemerdekaan, pemerintahan berdasarkan adat, dan kemampuan masyarakatnya dalam membangun hubungan sosial serta ekonomi. Perkembangan perdagangan dan pelayaran kemudian membuat masyarakat Bugis tersebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Perang Makassar pada abad ke-17 menjadi salah satu peristiwa yang mempercepat perubahan politik dan perpindahan sebagian masyarakat Bugis. Namun, hubungan Bugis dengan wilayah lain, termasuk Lampung, sangat mungkin telah berlangsung melalui jaringan perdagangan sebelum konflik tersebut.
Way Tulang Bawang memiliki kedudukan penting dalam analisis ini. Sebagai jalur transportasi dan perdagangan hasil bumi, kawasan tersebut menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Perdagangan lada yang menghubungkan Lampung dengan Banten, Palembang, VOC, dan jaringan niaga lainnya membuka peluang bagi pedagang dari berbagai daerah untuk hadir di wilayah ini.
Dalam keadaan tersebut, kemungkinan kedatangan masyarakat Bugis ke Lampung dapat dipahami sebagai bagian dari sejarah maritim dan perdagangan Nusantara. Akan tetapi, hubungan langsung antara gelombang perantauan tertentu dari Wajo dan pembentukan komunitas Bugis Kota Negara masih memerlukan penelitian lebih mendalam.
Jika keterangan kedatangan pada abad ke-16 dapat dibuktikan melalui silsilah, makam, naskah, atau dokumen sejarah, maka temuan tersebut akan menjadi kontribusi penting bagi sejarah lokal Lampung.
Apabila ternyata komunitas Bugis Kota Negara terbentuk melalui beberapa gelombang kedatangan pada abad ke-16, ke-17, atau sesudahnya, temuan itu juga akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai proses terbentuknya masyarakat di wilayah Sungkai.
Yang jelas, cerita asal-usul Bugis Kota Negara tidak seharusnya berhenti sebagai cerita turun-temurun. Ia layak didokumentasikan dan diteliti agar menjadi bagian dari pengetahuan sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Sejarah bukan sekadar mengenang siapa leluhur kita. Sejarah juga merupakan usaha memahami perjalanan manusia, hubungan antarmasyarakat, perjuangan mempertahankan kehidupan, dan proses terbentuknya identitas suatu daerah.
Dengan penelitian yang lebih mendalam, Kota Negara berpeluang memiliki dokumentasi sejarah yang dapat menjelaskan secara lebih terang hubungan antara masyarakat Bugis Wajo, Buay Semenguk, Marga Bunga Mayang, dan kawasan Way Tulang Bawang.
Catatan Redaksi dan Sumber Penelitian
Artikel ini disusun berdasarkan bahan sejarah lisan mengenai Bugis Kota Negara, keterangan tokoh adat setempat, serta perbandingan dengan sejumlah sumber sejarah mengenai Kerajaan Wajo, Perang Makassar, dan perdagangan lada Lampung.
Beberapa hal yang perlu mendapat penelitian lanjutan adalah tanggal pasti kedatangan leluhur Bugis Kota Negara, identitas tokoh perintis, jalur perjalanan dari Sulawesi Selatan menuju Lampung, hubungan silsilah dengan Kerajaan Wajo, serta bukti arkeologis di wilayah Kota Negara.
Penulisan sejarah ini juga perlu memperhatikan beberapa koreksi penting:
- Perjanjian Bongaya ditandatangani pada 18 November 1667, sedangkan konflik Perang Makassar berlangsung hingga 1669.
- Islam diterima secara resmi oleh Kerajaan Wajo pada 1610 dalam masa pemerintahan La Sangkuru Patau Mulajaji.
- La Galigo merupakan tokoh dalam tradisi sastra Bugis, bukan nama yang dapat dipastikan sebagai pengarang tunggal seluruh karya I La Galigo.
- Luwu di Sulawesi Selatan harus dibedakan dari Luwuk di kawasan Banggai, Sulawesi Tengah.
- Kedatangan orang Bugis ke Lampung pada abad ke-16 merupakan kemungkinan historis, tetapi waktu kedatangan khusus leluhur Bugis Kota Negara masih perlu dibuktikan.
Referensi dan bacaan pendukung
- Repositori Universitas Hasanuddin, penelitian mengenai Kerajaan Wajo dalam Perang Makassar 1666–1669.
- Repositori UIN Alauddin Makassar, penelitian mengenai perkembangan Islam di Kerajaan Wajo pada abad ke-17.
- Haji Andi Mallanti, Lontaraq Suqkuna Wajo, kajian mengenai tradisi sejarah dan proses Islamisasi Kerajaan Wajo.
- Geoportal Pemerintah Kota Samarinda, sejarah kedatangan rombongan Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona.
- Fauzan, Elda Harits, dan Hamid, Abd Rahman, penelitian tentang perubahan hubungan Lampung dengan Banten dalam perdagangan lada abad XVI–XVIII, JAWI, 2023.
- Sarjiyanto, penelitian Mencermati Kembali Komoditas Lada Masa Kesultanan Banten Abad ke-16–19, jurnal AMERTA.
- Repositori UIN Raden Intan Lampung, penelitian mengenai dinamika perdagangan lada di Lampung.
Referensi daring:
- Universitas Hasanuddin – Kerajaan Wajo dalam Perang Makassar Tahun 1666–1669
- Geoportal Pemerintah Kota Samarinda – Sejarah
- JAWI – Perubahan Hubungan Lampung dengan Banten dalam Perdagangan Lada Abad XVI–XVIII
- BRIN – Mencermati Kembali Komoditas Lada Masa Kesultanan Banten
- UIN Alauddin – Perkembangan Islam di Kerajaan Wajo
Penulis: Redaksi Navigasi.in
Tag: Sejarah Bugis Kota Negara, Bugis Wajo, Marga Bunga Mayang, Sungkai, Buay Semenguk, Way Tulang Bawang, Sejarah Lampung, Kerajaan Wajo, Perantauan Bugis.

Posting Komentar untuk "Jejak Bugis Wajo di Kota Negara: Menelusuri Sejarah Perantauan hingga Marga Bunga Mayang Sungkai"