Setelah Erupsi Anak Krakatau, Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul: Netizen Sebut “Cucu Krakatau”
Oleh: Semacca Andanant
Navigasi.in – Lampung Selatan
LAMPUNG SELATAN – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali membawa perubahan pada bentang alam di kawasan Selat Sunda. Setelah mengalami rangkaian aktivitas erupsi sepanjang periode peningkatan aktivitas vulkanik pada 2026, muncul daratan baru dengan luas sekitar 30,3 hektare di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, tepatnya di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
![]() |
| Setelah Erupsi Anak Krakatau, Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul: Netizen Sebut “Cucu Krakatau” |
Kemunculan daratan baru tersebut langsung menarik perhatian masyarakat dan pengguna media sosial. Sebagian netizen kemudian memberikan julukan tidak resmi “Cucu Krakatau” karena daratan itu terbentuk di kawasan kompleks vulkanik Krakatau dan merupakan hasil akumulasi material yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas erupsi.
Namun, penyebutan “Cucu Krakatau” tersebut perlu dipahami sebagai julukan masyarakat atau istilah populer, bukan nama resmi dan bukan pula penetapan bahwa telah lahir gunung api baru. Petugas pemantauan Gunung Anak Krakatau menyebut daratan tersebut terbentuk dari penumpukan material vulkanik hasil erupsi.
Dengan kata lain, pemandangan baru yang terlihat di kawasan tersebut memang menunjukkan perubahan geografis yang menarik, tetapi keberadaan daratan baru itu belum dapat diartikan sebagai kemunculan gunung api baru.
Daratan Baru Muncul di Antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung
Daratan baru yang menjadi perhatian publik tersebut berada di kawasan antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Lokasinya masih berada dalam lingkungan kompleks vulkanik Krakatau yang dikenal memiliki sejarah aktivitas geologi sangat dinamis.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, membenarkan adanya daratan baru tersebut. Berdasarkan informasi yang diberitakan pada 23 September 2026, luas daratan baru diperkirakan mencapai sekitar 30,3 hektare.
Daratan tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba dalam satu kejadian. Material hasil erupsi yang keluar dari Gunung Anak Krakatau selama periode aktivitas vulkanik kemudian terakumulasi di kawasan sekitarnya. Proses penumpukan material tersebut secara bertahap mengubah bentuk permukaan kawasan perairan di sekitar gunung api.
Fenomena semacam ini memperlihatkan bagaimana gunung api dapat menjadi salah satu kekuatan alam yang secara langsung membentuk dan mengubah bentang alam. Material vulkanik yang sebelumnya berada di dalam sistem gunung api dapat keluar melalui erupsi, kemudian jatuh, mengalir, atau terbawa proses lain sehingga membentuk endapan baru.
Dalam kasus Gunung Anak Krakatau, proses tersebut terjadi di lingkungan laut. Karena itu, perubahan bentuk garis pantai maupun munculnya daratan baru menjadi fenomena yang dapat diamati setelah aktivitas erupsi berlangsung.
Benarkah Ini “Cucu Krakatau”?
Istilah “Cucu Krakatau” menjadi salah satu sebutan yang ramai digunakan netizen untuk menggambarkan daratan baru tersebut. Istilah ini terdengar menarik karena secara historis Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api yang tumbuh dari kawasan bekas Krakatau.
Akan tetapi, secara ilmiah, daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare tersebut belum dapat disebut sebagai gunung api baru.
Petugas pemantauan menjelaskan bahwa daratan tersebut merupakan hasil akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau. Artinya, terbentuknya daratan baru tidak otomatis berarti terbentuknya pusat erupsi atau gunung api baru.
Untuk menyebut sebuah struktur sebagai gunung api baru, diperlukan pengamatan geologi dan vulkanologi yang jauh lebih panjang dan komprehensif. Para ahli perlu mengetahui bagaimana struktur tersebut berkembang, bagaimana kondisi bawah permukaannya, apakah terdapat pusat aktivitas magma baru, bagaimana pola kegempaannya, bagaimana deformasinya, serta apakah terdapat indikator vulkanik lain.
Karena itu, istilah “Cucu Krakatau” lebih tepat dipandang sebagai julukan populer masyarakat untuk daratan baru yang terbentuk akibat material erupsi.
Bagaimana Daratan Bisa Terbentuk dari Erupsi?
Gunung api merupakan salah satu agen pembentuk bentang alam. Ketika terjadi erupsi, material dari dalam sistem gunung api dapat keluar dalam berbagai bentuk, mulai dari abu vulkanik, lapili, bom vulkanik, batuan, hingga lava.
Jika material tersebut jatuh dan menumpuk pada kawasan tertentu secara berulang, volumenya dapat bertambah. Di lingkungan darat, endapan tersebut dapat membentuk lapisan baru di sekitar gunung. Sementara di lingkungan laut, akumulasi material dapat mengubah dasar perairan dan pada kondisi tertentu menghasilkan bagian daratan yang muncul ke permukaan.
Proses inilah yang menjadi konteks penting untuk memahami kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Daratan tersebut bukan berarti tiba-tiba muncul dari dasar laut tanpa proses. Sebaliknya, ia merupakan hasil dari akumulasi material vulkanik yang telah dikeluarkan selama periode aktivitas erupsi.
Karena proses geologi masih berlangsung dan kawasan tersebut berada dekat dengan gunung api aktif, bentuk daratan baru juga tidak otomatis permanen. Ombak, arus laut, hujan, longsoran, aktivitas erupsi berikutnya, serta proses erosi dapat mengubah bentuk dan luasnya.
Itulah sebabnya pengukuran luas sekitar 30,3 hektare perlu dipahami sebagai kondisi berdasarkan pengamatan pada periode tertentu. Luas dan bentuk daratan dapat berubah seiring perkembangan proses geologi maupun kondisi laut.
Anak Krakatau Mengalami Aktivitas Tinggi pada 2026
Kemunculan daratan baru tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik pada 2026.
Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Peningkatan status tersebut dilakukan setelah terdeteksi peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi.
Menurut laporan khusus Badan Geologi, sebelum peningkatan status tersebut telah teramati sejumlah indikasi aktivitas vulkanik. Sejak 1 Juni 2026, citra satelit Sentinel memperlihatkan emisi gas SO2 dan anomali panas, sementara titik api di kawah teramati sejak 10 Juni 2026.
Aktivitas kemudian berlanjut selama beberapa bulan. Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami ratusan kejadian erupsi hingga awal September 2026.
Pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB, terjadi erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Berdasarkan pemantauan citra satelit, aktivitas tersebut menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat, hingga barat daya dari pusat erupsi.
Rangkaian aktivitas tersebut menjadi bagian penting untuk memahami mengapa bentang alam di sekitar Gunung Anak Krakatau kemudian mengalami perubahan.
Kawah Anak Krakatau Juga Menunjukkan Perubahan Bentuk
Selain kemunculan daratan baru, perubahan lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah bentuk kawasan kawah setelah aktivitas erupsi. Dalam rekaman dan pengamatan yang beredar di masyarakat, bentuk kawasan kawah tampak berbeda setelah mengalami aktivitas vulkanik.
Salah satu gambaran populer yang digunakan masyarakat untuk mendeskripsikannya adalah seperti “telur ceplok” atau “telur mata sapi”. Gambaran tersebut merupakan perumpamaan visual terhadap bentuk kawasan kawah yang terlihat dari atas atau dari sudut pandang tertentu.
Namun, bentuk yang terlihat dari foto maupun video tidak seharusnya langsung ditafsirkan sebagai tanda tertentu mengenai kondisi magma di bawah permukaan. Untuk mengetahui kondisi gunung api secara ilmiah, para ahli menggunakan berbagai instrumen dan metode pengamatan, bukan hanya berdasarkan bentuk visual.
Pengamatan visual tetap penting, tetapi harus dikombinasikan dengan data kegempaan, deformasi, emisi gas, temperatur, citra satelit, serta indikator lainnya.
Status Anak Krakatau Kini Turun Menjadi Level II
Di tengah perhatian terhadap munculnya daratan baru, perkembangan penting lainnya adalah penurunan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menurunkan status Gunung Anak Krakatau dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Penurunan tersebut bukan berarti aktivitas gunung api telah berhenti sepenuhnya. Keputusan tersebut dibuat berdasarkan hasil analisis dan evaluasi terhadap data pemantauan yang menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas.
Badan Geologi mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami kecenderungan menurun hingga 20 September 2026. Data deformasi juga menunjukkan adanya deflasi, sementara catatan kegempaan pada 20 September mencatat satu kali Gempa Low Frequency dan tremor menerus dengan amplitudo rata-rata sekitar 2 milimeter.
Penurunan status tersebut kemudian juga disampaikan Pemerintah Provinsi Lampung. Masyarakat tetap diminta menjaga kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.
Level II Bukan Berarti Anak Krakatau Tidak Berbahaya
Perubahan status dari Siaga menjadi Waspada sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Sebagian masyarakat dapat menganggap bahwa setelah status diturunkan, kawasan gunung api otomatis aman untuk didatangi.
Pemahaman tersebut tidak tepat.
Level II atau Waspada tetap menunjukkan bahwa gunung api masih memiliki aktivitas dan potensi bahaya. Status dapat dievaluasi kembali apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas vulkanik.
Karena itu, masyarakat maupun wisatawan tidak seharusnya menggunakan munculnya daratan baru sebagai alasan untuk mendekati kawasan gunung api.
Terlebih lagi, material baru hasil erupsi dapat memiliki kondisi yang tidak stabil. Permukaan yang tampak keras dari kejauhan belum tentu aman untuk diinjak. Di kawasan gunung api aktif, terdapat pula potensi longsoran, gas vulkanik, material panas, perubahan aktivitas erupsi, serta bahaya lain yang tidak selalu terlihat secara kasatmata.
Daratan Baru Belum Tentu Permanen
Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah apakah daratan baru tersebut akan tetap menjadi pulau atau daratan permanen.
Jawabannya belum dapat dipastikan hanya berdasarkan kondisi saat ini.
Daratan hasil akumulasi material vulkanik dapat mengalami perubahan. Material yang baru saja terendapkan bisa relatif rapuh dan mudah mengalami erosi. Ombak dan arus laut dapat mengikis sebagian endapan, sementara aktivitas vulkanik berikutnya dapat menambah material baru.
Dengan demikian, bentuk daratan tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu.
Apabila material terus bertambah dan kawasan tersebut menjadi semakin stabil, bentuk daratan dapat berkembang. Sebaliknya, jika proses erosi lebih kuat daripada proses penambahan material, sebagian daratan dapat terkikis.
Karena itu, luas 30,3 hektare sebaiknya dipandang sebagai ukuran berdasarkan kondisi pengamatan saat ini, bukan jaminan bahwa luas tersebut akan tetap sama pada masa mendatang.
Fenomena Ini Mengingatkan pada Sejarah Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah yang sangat berkaitan dengan perubahan bentang alam di Selat Sunda.
Kementerian ESDM menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau muncul pada 11 Juni 1927 di kawasan kompleks vulkanik Krakatau. Sejak kemunculannya, gunung api tersebut terus mengalami aktivitas erupsi dengan periode istirahat yang berbeda-beda.
Kompleks Krakatau sendiri memiliki sejarah panjang dalam aktivitas vulkanik. Peristiwa erupsi besar Krakatau pada 1883 menjadi salah satu kejadian vulkanologi yang paling dikenal dalam sejarah modern kawasan Selat Sunda.
Setelah perubahan besar pada kawasan Krakatau, aktivitas vulkanik kemudian melahirkan Gunung Anak Krakatau. Dalam perjalanan berikutnya, Anak Krakatau juga terus tumbuh dan mengalami berbagai episode erupsi.
Karena sejarah tersebut, setiap perubahan bentuk tubuh Gunung Anak Krakatau maupun kawasan di sekitarnya selalu menjadi perhatian para ahli dan masyarakat.
Kenapa Daratan Baru Menjadi Perhatian Publik?
Kemunculan daratan baru di kawasan gunung api selalu memiliki daya tarik tersendiri. Masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana aktivitas geologi mengubah peta permukaan bumi.
Dalam kasus Gunung Anak Krakatau, perhatian tersebut semakin besar karena lokasi daratan baru berada di kawasan yang memiliki nilai sejarah dan geologi tinggi.
Foto dan video daratan baru yang beredar di media sosial kemudian memunculkan berbagai interpretasi. Ada yang melihatnya sebagai pulau baru, ada yang menyebutnya “Cucu Krakatau”, sementara sebagian lainnya menghubungkannya dengan kemungkinan lahirnya gunung api baru.
Di sinilah informasi resmi dari petugas pemantauan menjadi penting. Tidak semua istilah populer di media sosial memiliki arti ilmiah yang sama dengan istilah vulkanologi.
Menyebut daratan tersebut sebagai “Cucu Krakatau” boleh saja dalam konteks julukan atau bahasa populer, tetapi masyarakat perlu mengetahui bahwa secara ilmiah daratan tersebut saat ini dijelaskan sebagai hasil akumulasi material vulkanik.
Perlu Penelitian Lebih Lanjut
Petugas masih melakukan pengamatan terhadap karakteristik material dan kondisi daratan baru tersebut.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui karakter material penyusun, kestabilan permukaan, perubahan luas, bentuk garis pantai, serta hubungan antara endapan tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pengamatan dari waktu ke waktu akan memberikan gambaran apakah daratan tersebut terus bertambah, mengalami pengikisan, atau berubah bentuk akibat dinamika laut dan aktivitas vulkanik.
Teknologi penginderaan jauh dan citra satelit juga dapat membantu memantau perubahan kawasan. Data dari citra satelit dapat dibandingkan dari waktu ke waktu sehingga perubahan bentuk dan luas daratan dapat diketahui dengan lebih objektif.
Data lapangan juga tetap penting, tetapi akses langsung ke kawasan gunung api harus mempertimbangkan keselamatan dan mengikuti rekomendasi resmi.
Jangan Mendekat Hanya untuk Membuat Konten
Kemunculan “Cucu Krakatau” tentu menarik bagi pembuat konten, fotografer, wisatawan, maupun masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena alam.
Namun, aktivitas pembuatan konten tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan.
Gunung api dapat berubah dalam waktu relatif cepat. Kondisi yang terlihat tenang dari kejauhan tidak selalu berarti seluruh sistem vulkaniknya telah stabil.
Selain potensi erupsi, kawasan gunung api juga dapat memiliki bahaya lain seperti gas vulkanik, lontaran material, lava, abu, perubahan cuaca, gelombang, arus laut, dan ketidakstabilan permukaan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan video viral sebagai dasar untuk menentukan apakah suatu lokasi aman dikunjungi.
Informasi mengenai zona aman dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau harus merujuk kepada Badan Geologi, PVMBG, BPBD, serta instansi terkait.
Fenomena Geologi yang Menarik, Tetapi Tetap Harus Diwaspadai
Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau memberikan kesempatan untuk memahami bagaimana proses vulkanisme bekerja.
Dalam satu sisi, erupsi merupakan fenomena yang dapat membawa risiko bagi manusia. Namun dari sisi geologi, material erupsi juga merupakan bagian dari proses pembentukan bentang alam.
Gunung api dapat membangun daratan baru melalui akumulasi lava dan material vulkanik. Dalam skala waktu yang panjang, aktivitas vulkanik berkontribusi terhadap pembentukan pulau dan perubahan bentuk wilayah.
Fenomena di sekitar Anak Krakatau menjadi contoh nyata bahwa permukaan bumi bukanlah sesuatu yang selalu tetap. Daratan yang hari ini terlihat dapat mengalami perubahan di masa depan.
Apakah “Cucu Krakatau” Akan Menjadi Pulau Resmi?
Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah apakah daratan baru tersebut nantinya akan memiliki nama resmi dan dicatat sebagai pulau baru.
Untuk menjawabnya diperlukan proses pengamatan, pemetaan, dan administrasi yang sesuai. Tidak setiap daratan yang muncul akibat aktivitas vulkanik otomatis menjadi pulau dengan nama resmi.
Penamaan geografis merupakan persoalan yang berbeda dengan proses terbentuknya daratan secara geologi.
Karena itu, untuk saat ini istilah “Cucu Krakatau” lebih tepat disebut sebagai julukan populer yang muncul di tengah masyarakat dan media sosial.
Nama tersebut belum dapat dianggap sebagai nama geografis resmi.
Perubahan Alam di Selat Sunda Terus Dipantau
Kawasan Selat Sunda memiliki dinamika geologi yang tinggi. Gunung Anak Krakatau berada di lingkungan kompleks vulkanik yang terus dipantau oleh pemerintah.
Pemantauan dilakukan menggunakan berbagai metode, termasuk pengamatan visual, seismograf, pengukuran deformasi, citra satelit, dan metode lainnya.
Data tersebut digunakan untuk menilai perkembangan aktivitas gunung api dan menjadi dasar evaluasi tingkat aktivitas.
Dalam laporan 21 September 2026, Badan Geologi menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau akan dievaluasi kembali secara berkala atau apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
Artinya, masyarakat tetap perlu mengikuti perkembangan terbaru meskipun status saat ini sudah berada pada Level II Waspada.
Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi
Fenomena alam yang menarik biasanya dengan cepat menyebar di media sosial. Foto dan video dapat dibagikan ribuan kali hanya dalam hitungan jam.
Namun, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu berarti informasi tersebut telah diverifikasi.
Dalam kasus daratan baru Gunung Anak Krakatau, misalnya, istilah “gunung baru” atau “Cucu Krakatau” dapat digunakan sebagai judul yang menarik perhatian. Akan tetapi, masyarakat perlu membedakan antara judul populer dengan kesimpulan ilmiah.
Informasi yang menyatakan bahwa telah lahir gunung api baru harus memiliki dasar pengamatan dan kajian vulkanologi yang memadai.
Sampai informasi yang tersedia saat ini, petugas menyebut daratan baru tersebut sebagai akumulasi material vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau, bukan sebagai gunung api baru.
Gunung Anak Krakatau Tetap Menjadi Gunung Api Aktif
Meski aktivitasnya mengalami penurunan, Gunung Anak Krakatau tetap merupakan gunung api aktif.
Karena itu, status Level II Waspada harus dipahami dalam konteks pemantauan gunung api. Penurunan status merupakan hasil evaluasi terhadap data terbaru, bukan pernyataan bahwa seluruh risiko telah hilang.
Perkembangan aktivitas dapat berubah dan status dapat dievaluasi kembali jika terdapat perubahan signifikan.
Masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir Lampung dan Banten sebaiknya mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum jelas sumbernya.
Fenomena “Cucu Krakatau” Menjadi Catatan Baru Sejarah Geologi Lampung
Jika dilihat dari perspektif geologi, kemunculan daratan baru sekitar 30,3 hektare merupakan salah satu perubahan menarik yang terjadi di kawasan kompleks Krakatau.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas vulkanik tidak hanya menghasilkan abu dan lava, tetapi juga dapat mengubah bentuk permukaan bumi.
Daratan yang kini disebut netizen sebagai “Cucu Krakatau” menjadi pengingat bahwa proses geologi masih terus berlangsung di Selat Sunda.
Namun, apakah daratan tersebut akan bertahan dalam jangka panjang, bertambah luas, menyusut akibat erosi, atau mengalami perubahan lain masih membutuhkan pengamatan lanjutan.
Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti perkembangan penelitian dan pemantauan resmi sebelum membuat kesimpulan mengenai masa depan daratan tersebut.
Kesimpulan
Setelah mengalami rangkaian aktivitas erupsi pada 2026, kawasan Gunung Anak Krakatau kembali mengalami perubahan bentang alam. Daratan baru dengan luas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan.
Daratan tersebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama periode aktivitas erupsi. Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau membenarkan keberadaan daratan tersebut.
Di media sosial, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai “Cucu Krakatau”. Namun, istilah tersebut merupakan julukan populer dan belum menjadi nama resmi.
Daratan baru itu juga belum dapat disebut sebagai gunung api baru. Petugas masih melakukan pengamatan terhadap karakteristik material dan perkembangan kawasan tersebut.
Pada saat yang sama, aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami kecenderungan menurun. Badan Geologi menurunkan status aktivitas dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada mulai 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kawasan Selat Sunda merupakan wilayah dengan dinamika geologi yang sangat aktif. Perubahan bentang alam dapat terjadi sebagai bagian dari proses vulkanisme, tetapi setiap perkembangan Gunung Anak Krakatau tetap harus dipantau dan diikuti berdasarkan informasi resmi.
Bagi masyarakat, kemunculan daratan baru ini tentu menjadi fenomena alam yang menarik untuk diamati. Namun, keselamatan harus tetap menjadi perhatian utama. Jangan mendekati kawasan berbahaya hanya karena ingin mendapatkan foto atau video yang viral.
“Cucu Krakatau” mungkin menjadi nama yang menarik di media sosial. Tetapi secara ilmiah, yang terlihat saat ini adalah daratan baru hasil akumulasi material vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Perjalanan pembentukan daratan tersebut masih berlangsung dan penelitian lebih lanjut akan menentukan bagaimana bentuknya di masa depan.
Catatan Redaksi
Artikel ini menggunakan informasi dari laporan resmi Badan Geologi Kementerian ESDM mengenai penurunan status Gunung Anak Krakatau serta pemberitaan mengenai kemunculan daratan baru sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Istilah “Cucu Krakatau” digunakan sebagai julukan populer yang berkembang di masyarakat, bukan sebagai nama resmi maupun penetapan gunung api baru.
Pembaca disarankan mengikuti informasi resmi Badan Geologi/PVMBG dan BPBD untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sumber Informasi
- Badan Geologi Kementerian ESDM – Laporan khusus penurunan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada, 21 September 2026.
- Kementerian ESDM – Informasi penurunan status aktivitas Gunung Anak Krakatau.
- Pemberitaan mengenai kemunculan daratan baru sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, 23 September 2026.
Tag: Anak Krakatau, Cucu Krakatau, Krakatau, Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, Selat Sunda, erupsi Anak Krakatau, pulau baru, daratan baru, gunung api, vulkanologi, Lampung, berita Lampung, berita terbaru Lampung.

Posting Komentar untuk "Setelah Erupsi Anak Krakatau, Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul: Netizen Sebut “Cucu Krakatau”"