Remaja China Diminta Jualan agar Kapok Tak Mau Sekolah, Malah Raup Rp21 Juta dalam 10 Hari

NAVIGASI.INFO, JIAxing — Sebuah kisah tidak biasa datang dari Kota Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China. Seorang ibu awalnya ingin memberikan pelajaran hidup kepada putranya yang mulai kehilangan minat belajar di sekolah kejuruan. Namun, cara yang dipilih sang ibu justru menghasilkan kejutan besar.

Remaja China Diminta Jualan agar Kapok Tak Mau Sekolah, Malah Raup Rp21 Juta dalam 10 Hari
Remaja China Diminta Jualan agar Kapok Tak Mau Sekolah, Malah Raup Rp21 Juta dalam 10 Hari


Alih-alih menyerah setelah merasakan kerasnya bekerja di jalanan, sang anak justru menemukan bakatnya dalam berjualan makanan. Hanya dalam waktu 10 hari, remaja berusia 17 tahun yang dikenal dengan nama keluarga Shen tersebut dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 10.000 yuan atau sekitar US$1.400 dari usaha makanan yang dijalankannya.

Jika dikonversikan menggunakan kisaran nilai tukar yang digunakan dalam berbagai pemberitaan saat kisah tersebut viral, angka itu setara dengan sekitar Rp21 juta. Namun, penting dicatat bahwa angka tersebut merupakan hasil penjualan atau pendapatan usaha yang diberitakan, bukan berarti seluruhnya menjadi keuntungan bersih. Masih ada biaya bahan baku, minyak, perlengkapan, transportasi, listrik, dan berbagai biaya operasional lainnya.

Yang membuat cerita tersebut semakin menarik adalah kenyataan bahwa keberhasilan itu justru membuat Shen semakin yakin untuk meninggalkan bangku sekolah dan menekuni bisnis makanan secara penuh.

Awalnya Sang Ibu Ingin Memberi Pelajaran

Kisah tersebut bermula ketika prestasi Shen di sebuah sekolah kejuruan bidang kuliner mulai menurun. Remaja tersebut dilaporkan mulai kehilangan motivasi belajar dan merasa bahwa sekolah bukan lagi jalan yang ingin ditempuhnya.

Ketika sang ibu, Deng, menanyakan alasan di balik menurunnya prestasi tersebut, Shen mengungkapkan keinginannya untuk berhenti sekolah. Ia merasa belajar tidak memberikan arti baginya dan mulai berpikir bahwa bekerja secara langsung akan menjadi pilihan yang lebih baik.

Keinginan tersebut tentu membuat Deng khawatir. Sebagai seorang ibu yang sudah bertahun-tahun menjalankan usaha makanan jalanan, Deng mengetahui bahwa mencari uang bukan perkara mudah.

Deng sendiri telah menjalankan usaha menjual ayam goreng di sebuah lapak makanan jalanan di Jiaxing selama lebih dari tiga tahun. Ia mengetahui secara langsung bagaimana melelahkannya mempersiapkan makanan, membawa perlengkapan, mencari lokasi berjualan, menghadapi pelanggan, serta bekerja hingga larut malam.

Karena itulah, Deng memiliki sebuah gagasan.

Daripada hanya menasihati anaknya dengan kata-kata, ia ingin Shen merasakan sendiri dunia kerja. Harapannya, setelah mengalami bagaimana sulitnya mendapatkan uang, Shen akan kembali menghargai pendidikan dan menyadari bahwa sekolah dapat menjadi bekal penting untuk masa depannya.

Dengan kata lain, Deng bermaksud menjadikan pengalaman berjualan sebagai sebuah pelajaran hidup.

“Kalau Tidak Mau Menghadapi Kesulitan di Sekolah, Rasakan Kesulitan di Dunia Nyata”

Dalam wawancara dengan South China Morning Post, Deng menjelaskan alasan di balik keputusannya tersebut.

Menurutnya, Shen tidak ingin menghadapi kesulitan belajar. Karena itu, ia ingin putranya merasakan sendiri bahwa kehidupan di luar sekolah juga memiliki tantangan.

Logika Deng sebenarnya cukup sederhana. Sekolah mungkin terasa melelahkan bagi seorang remaja, tetapi dunia kerja memiliki tekanan yang berbeda. Ketika seseorang berjualan, misalnya, ia harus bangun, mempersiapkan barang dagangan, mengeluarkan modal, mencari pelanggan, menjaga kualitas produk, dan menerima risiko apabila dagangan tidak laku.

Deng berharap pengalaman tersebut dapat membuat Shen berpikir ulang mengenai keputusannya untuk berhenti sekolah.

Namun, apa yang terjadi kemudian justru berada di luar perkiraan sang ibu.

Shen Mengubah Sepeda Listrik Menjadi Gerobak Makanan

Dengan bantuan dan arahan dari ibunya, Shen mulai menjalankan bisnis makanan menggunakan sepeda listrik yang dimodifikasi menjadi semacam gerobak atau kios makanan bergerak.

Konsep tersebut memungkinkan Shen membawa perlengkapan dan produk makanan menuju lokasi penjualan tanpa harus menyewa toko permanen.

Bagi seorang remaja berusia 17 tahun, pekerjaan tersebut bukan sesuatu yang ringan.

Ia tidak hanya harus memasak. Shen juga harus mempersiapkan bahan, membawa perlengkapan, melakukan perjalanan menuju lokasi berjualan, melayani pelanggan, mengatur transaksi, serta menjaga operasional lapaknya hingga malam.

Dalam proses tersebut, Shen ternyata menunjukkan kemampuan beradaptasi yang sangat cepat.

Alih-alih merasa kapok, ia justru terlihat semakin menikmati pekerjaannya.

Bangun Pukul 09.00, Pulang Sekitar Pukul 03.00

Rutinitas harian Shen menjadi salah satu bagian paling menarik dari kisah tersebut.

Menurut laporan yang mengutip penuturan sang ibu, Shen mulai mempersiapkan makanan sekitar pukul 09.00 pagi.

Setelah berbagai persiapan selesai, ia kemudian melakukan perjalanan sekitar 13 kilometer menuju lokasi tempatnya berjualan.

Lapaknya mulai beroperasi sekitar pukul 16.00.

Setelah itu, Shen melayani pelanggan hingga larut malam. Aktivitas tersebut bahkan membuatnya baru kembali ke rumah sekitar pukul 03.00 dini hari.

Dengan pola tersebut, kehidupan sehari-hari Shen jauh dari gambaran seorang remaja yang hanya menghabiskan waktu setelah sekolah untuk bermain atau berkumpul bersama teman.

Ia harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempersiapkan dan menjalankan bisnis.

Jika dihitung secara kasar, aktivitasnya dimulai sejak pagi dan baru selesai pada dini hari berikutnya. Tentu saja, tidak seluruh rentang waktu tersebut digunakan untuk berjualan karena terdapat waktu perjalanan, persiapan, istirahat, dan aktivitas lainnya.

Namun, rutinitas tersebut tetap menunjukkan betapa besar tenaga yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan bisnis makanan jalanan.

Hanya 10 Hari, Pendapatan Mencapai 10.000 Yuan

Hasilnya ternyata mengejutkan.

Dalam 10 hari pertama menjalankan bisnis tersebut, Shen dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 10.000 yuan.

Angka tersebut setara dengan sekitar US$1.400 berdasarkan nilai tukar yang digunakan dalam laporan media ketika kisah tersebut viral pada September 2024.

Jika menggunakan gambaran nilai tukar sekitar Rp21 juta, jumlah tersebut tentu terlihat sangat besar bagi seorang remaja berusia 17 tahun.

Jika dibagi rata selama 10 hari, angka tersebut setara sekitar 1.000 yuan per hari dalam pendapatan kotor.

Namun, angka tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai keuntungan bersih.

Bisnis makanan memiliki berbagai komponen biaya. Modal untuk membeli ayam, tepung, minyak goreng, bumbu, kemasan, bahan bakar atau listrik, transportasi, serta perlengkapan lainnya harus diperhitungkan sebelum seseorang bisa mengetahui berapa keuntungan sebenarnya.

Meski demikian, kemampuan mencapai penjualan sebesar itu dalam waktu relatif singkat tetap menunjukkan bahwa Shen memiliki kemampuan berjualan yang cukup menjanjikan.

Kesuksesan Justru Membuat Shen Makin Yakin Berhenti Sekolah

Di sinilah rencana Deng mulai mengalami perubahan arah.

Deng awalnya berharap pengalaman berjualan membuat Shen menyadari pentingnya pendidikan.

Namun, Shen justru mendapatkan kesimpulan berbeda.

Pengalaman bekerja membuatnya menemukan bahwa ia mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan uang. Ia juga merasakan kepuasan ketika pelanggan membeli makanan buatannya.

Keberhasilan tersebut membuat kepercayaan dirinya meningkat.

Jika sebelumnya Shen merasa sekolah tidak memberikan arti baginya, pengalaman berjualan memberikan hasil yang bisa langsung dilihat.

Ia bekerja, melayani pelanggan, kemudian mendapatkan pemasukan.

Karena itu, keberhasilan tersebut semakin memperkuat keinginannya untuk berhenti sekolah dan fokus pada usaha.

Sang Ibu Sempat Berusaha Membujuknya

Deng ternyata tidak langsung menyetujui keputusan tersebut.

Meskipun ia memberikan kesempatan kepada Shen untuk merasakan dunia usaha, Deng tetap menyadari bahwa anaknya masih berusia 17 tahun.

Keputusan untuk meninggalkan pendidikan formal pada usia muda dapat memiliki konsekuensi jangka panjang.

Karena itu, Deng sempat berusaha membujuk putranya agar tidak buru-buru meninggalkan sekolah.

Namun, Shen tetap memiliki pendirian sendiri.

Ia sudah merasakan pengalaman bekerja dan menemukan bahwa dirinya memiliki ketertarikan terhadap bisnis makanan.

Di sisi lain, Deng akhirnya memilih untuk tidak memaksakan kehendaknya.

Ia tetap memberikan dukungan kepada putranya dengan catatan bahwa Shen harus menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.

Deng Tidak Ingin Anaknya Hanya Mengejar Uang

Keputusan Deng menarik perhatian karena sikapnya tidak berhenti pada persoalan sekolah atau bisnis.

Sebagai seorang ibu, ia tentu memiliki kekhawatiran terhadap masa depan putranya. Namun, ia juga melihat bahwa Shen memiliki kemampuan dan semangat yang tidak bisa begitu saja diabaikan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan formal dan keterampilan praktis sebenarnya tidak selalu harus dipertentangkan.

Seorang anak dapat memperoleh pendidikan akademik sekaligus mengembangkan kemampuan berwirausaha.

Dalam kasus Shen, persoalannya adalah ia telah kehilangan motivasi terhadap pendidikan formal sebelum menemukan minat yang kuat dalam dunia bisnis.

Deng akhirnya memilih untuk membimbingnya daripada sekadar memaksanya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa orang tua dapat berperan sebagai pengarah, sementara anak tetap perlu belajar mengambil tanggung jawab terhadap keputusan hidupnya sendiri.

Bisnis Jalanan Bukan Jalan Mudah Menjadi Kaya

Kisah Shen memang terlihat seperti cerita sukses yang sangat cepat.

Seorang remaja mencoba berjualan makanan dan menghasilkan 10.000 yuan dalam 10 hari.

Namun, angka tersebut tidak boleh membuat orang menyimpulkan bahwa berjualan makanan jalanan selalu mudah menghasilkan uang dalam jumlah besar.

Bisnis makanan sangat bergantung pada lokasi, harga, kualitas produk, jumlah pelanggan, persaingan, cuaca, jam operasional, modal, dan kemampuan menjaga pelanggan tetap kembali.

Dalam kasus Shen, keberadaan pelanggan loyal juga disebut sebagai salah satu faktor yang membantu keberhasilannya.

Artinya, keberhasilan tersebut tidak semata-mata muncul karena ia membuka gerobak makanan.

Ada kerja keras, keterampilan memasak, dukungan keluarga, lokasi berjualan, pelanggan, serta kemampuan menjalankan operasional usaha.

Faktor-faktor tersebut harus diperhitungkan sebelum kisah Shen dijadikan contoh bahwa meninggalkan sekolah dan berjualan otomatis menghasilkan uang besar.

Pengalaman Shen Menunjukkan Nilai Pendidikan yang Berbeda

Menariknya, cerita tersebut juga dapat dilihat dari sisi pendidikan.

Sekolah memberikan pengetahuan, teori, disiplin, kemampuan membaca dan memahami informasi, serta berbagai keterampilan yang dapat digunakan seseorang dalam kehidupan.

Sementara itu, pengalaman menjalankan bisnis memberikan pelajaran yang sangat praktis.

Shen secara langsung belajar mengenai biaya produksi, pelayanan pelanggan, pemasaran, pengelolaan waktu, mobilitas, dan risiko bisnis.

Ia mungkin tidak sedang duduk di ruang kelas ketika melakukan semua itu, tetapi sebenarnya ia sedang belajar.

Hanya saja, bentuk pembelajarannya berbeda.

Inilah salah satu pelajaran penting dari kisah tersebut.

Pendidikan tidak selalu berhenti di ruang kelas. Namun, hal tersebut juga tidak berarti sekolah menjadi tidak penting.

Justru kemampuan membaca, berhitung, memahami kontrak, mengelola keuangan, memahami hukum usaha, menggunakan teknologi, dan berkomunikasi dapat menjadi semakin penting ketika seseorang mulai menjalankan bisnis sendiri.

Keberhasilan Awal Tidak Sama dengan Kesuksesan Jangka Panjang

Ada satu hal yang perlu diperhatikan dari cerita Shen.

Pendapatan tinggi dalam 10 hari pertama belum tentu bisa bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Bisnis memiliki siklus naik dan turun.

Ketika sebuah makanan menjadi populer, pesaing dapat muncul. Ketika lokasi berubah, jumlah pelanggan dapat menurun. Harga bahan baku juga dapat meningkat.

Karena itu, seorang pengusaha harus mampu mengembangkan bisnisnya agar tidak bergantung pada keberuntungan sesaat.

Dalam kasus Shen, pengalaman 10 hari tersebut merupakan indikasi bahwa ia memiliki potensi, tetapi belum menjadi bukti bahwa bisnisnya pasti sukses dalam jangka panjang.

Ia masih membutuhkan kemampuan manajemen, pencatatan keuangan, pemasaran, pengembangan produk, dan perencanaan usaha.

Target Shen Berikutnya adalah Kendaraan Roda Tiga Listrik

Setelah memperoleh penghasilan dari usaha makanan, Shen memiliki target untuk mengembangkan operasional bisnisnya.

Salah satu target yang diberitakan adalah membeli kendaraan roda tiga listrik.

Kendaraan tersebut akan membuatnya lebih mudah membawa perlengkapan dan barang dagangan dibandingkan menggunakan sepeda listrik yang dimodifikasi.

Target tersebut menunjukkan bahwa Shen tidak hanya berpikir mengenai bagaimana menghabiskan uang yang diperolehnya.

Ia mulai memikirkan bagaimana pendapatan usaha dapat digunakan kembali sebagai modal untuk mengembangkan bisnis.

Dalam dunia kewirausahaan, pola berpikir seperti itu sangat penting.

Pendapatan yang diperoleh seharusnya tidak seluruhnya dianggap sebagai uang konsumsi. Sebagian dapat digunakan sebagai modal untuk meningkatkan kapasitas usaha.

Pelajaran dari 10 Hari Berjualan

Jika dilihat lebih luas, pengalaman Shen memberikan beberapa pelajaran menarik.

1. Pengalaman langsung dapat mengubah cara berpikir

Nasihat dari orang tua tidak selalu mudah diterima oleh anak. Namun, ketika seseorang mengalami sendiri sebuah situasi, ia dapat memperoleh pemahaman yang berbeda.

Deng mungkin ingin Shen memahami betapa sulitnya mencari uang. Tetapi pengalaman tersebut justru membuat Shen memahami bahwa dirinya mampu mencari uang.

Dua kesimpulan tersebut sangat berbeda.

2. Bakat seseorang tidak selalu terlihat di sekolah

Prestasi akademik yang menurun tidak otomatis berarti seseorang tidak memiliki kemampuan.

Shen justru menunjukkan kemampuan dalam bidang yang sebelumnya mungkin tidak terlihat melalui nilai sekolah.

Ia mampu beradaptasi, bekerja keras, melayani pelanggan, dan mengelola usaha makanan.

3. Kerja keras tetap membutuhkan strategi

Shen tidak hanya bekerja lama.

Ia juga memilih produk yang sudah dikenal masyarakat, memanfaatkan kendaraan bergerak, mendatangi lokasi penjualan, dan mendapatkan dukungan pelanggan.

Artinya, kerja keras menjadi lebih efektif ketika dipadukan dengan strategi.

4. Pendapatan besar belum tentu keuntungan besar

Ini merupakan pelajaran yang sangat penting bagi calon pengusaha.

Omzet bukan keuntungan.

Jika sebuah usaha menghasilkan Rp21 juta dalam penjualan, bukan berarti pemiliknya membawa pulang Rp21 juta sebagai laba.

Biaya bahan baku dan operasional harus dikurangi terlebih dahulu.

Karena itu, pengusaha harus mengetahui margin keuntungan, arus kas, modal kerja, dan titik impas bisnis.

5. Usia muda bukan penghalang untuk belajar bisnis

Shen masih berusia 17 tahun ketika mulai serius menjalankan bisnis makanan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa anak muda dapat belajar mengenai kewirausahaan sejak dini.

Namun, belajar bisnis sejak muda sebaiknya tetap disertai pendampingan orang dewasa, terutama terkait keuangan, keamanan kerja, perizinan, kesehatan, dan pendidikan.

Perdebatan: Sekolah atau Langsung Berbisnis?

Kisah Shen juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar: apakah sekolah masih diperlukan jika seseorang sudah bisa menghasilkan uang?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Memiliki kemampuan menghasilkan uang memang merupakan keterampilan penting. Namun, pendidikan juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memperoleh pekerjaan.

Pendidikan membantu seseorang memahami berbagai informasi, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, membangun jaringan sosial, dan memperoleh dasar pengetahuan yang dapat digunakan dalam banyak situasi.

Sementara itu, bisnis mengajarkan keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca pasar, kreativitas, komunikasi, dan tanggung jawab.

Keduanya sebenarnya dapat saling melengkapi.

Karena itu, kisah Shen sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai pesan bahwa sekolah tidak berguna.

Pesan yang lebih tepat adalah bahwa setiap anak memiliki karakter, minat, dan kemampuan yang berbeda. Sistem pendidikan dan keluarga perlu membantu anak menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan potensinya.

Orang Tua Perlu Mengenali Potensi Anak

Kasus Shen memperlihatkan sebuah dinamika menarik antara orang tua dan anak.

Deng melihat sekolah sebagai jalan penting untuk masa depan. Sementara Shen melihat dunia usaha sebagai jalan yang lebih menarik bagi dirinya.

Keduanya memiliki alasan masing-masing.

Dalam situasi seperti ini, komunikasi menjadi sangat penting.

Orang tua tentu memiliki pengalaman hidup lebih banyak. Mereka dapat melihat risiko yang mungkin belum dipahami anak.

Sementara anak memiliki pengalaman, minat, dan aspirasi sendiri.

Solusi terbaik bukan selalu memaksa salah satu pihak menang.

Yang lebih penting adalah memastikan anak memahami konsekuensi dari pilihannya.

Jika ingin menjadi pengusaha, misalnya, seorang anak harus memahami bahwa bisnis dapat gagal.

Jika ingin meninggalkan pendidikan formal, ia juga harus memiliki rencana pendidikan alternatif atau pengembangan keterampilan.

Kisah yang Menjadi Viral di Media Internasional

Kisah Shen kemudian menarik perhatian media internasional karena memiliki unsur yang cukup unik.

Rencana seorang ibu untuk membuat anaknya kapok bekerja justru menghasilkan kebalikan.

Shen tidak merasa kapok.

Ia justru menemukan bahwa dirinya menyukai dunia usaha.

Laporan tentang kisah tersebut kemudian muncul dalam berbagai media di Asia dan menjadi bahan diskusi di media sosial.

Sejumlah komentar publik melihat keputusan Shen dari sudut pandang positif. Mereka menilai bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya jalan untuk membangun kehidupan yang baik.

Ada pula yang melihat bahwa kemampuan menguasai keterampilan praktis dapat menjadi modal penting bagi seseorang.

Namun, terdapat pula sudut pandang yang lebih berhati-hati karena Shen masih berusia 17 tahun dan keputusan meninggalkan sekolah dapat memiliki konsekuensi jangka panjang.

Pelajaran bagi Anak Muda di Indonesia

Kisah dari Jiaxing tersebut juga relevan jika dikaitkan dengan kondisi anak muda di Indonesia.

Belakangan ini semakin banyak anak muda yang tertarik pada bisnis makanan, perdagangan daring, konten digital, affiliate marketing, hingga usaha kecil berbasis media sosial.

Salah satu kelebihan bisnis modern adalah modal untuk memulainya dapat relatif kecil dibandingkan membuka toko konvensional.

Namun, persaingan juga semakin besar.

Karena itu, anak muda yang ingin berwirausaha perlu memahami dasar-dasar bisnis.

Mereka perlu mengetahui berapa modal yang diperlukan, berapa biaya produksi, berapa harga jual yang tepat, berapa margin keuntungan, serta berapa lama modal dapat kembali.

Mereka juga perlu memisahkan uang pribadi dengan uang usaha.

Kesalahan umum pengusaha pemula adalah menganggap seluruh uang masuk sebagai penghasilan pribadi.

Padahal, sebagian uang tersebut sebenarnya merupakan modal yang harus digunakan untuk membeli bahan baku dan menjalankan usaha berikutnya.

Omzet Rp21 Juta dalam 10 Hari Harus Dilihat Secara Rasional

Angka 10.000 yuan dalam 10 hari memang sangat menarik untuk dijadikan judul berita.

Namun, pembaca perlu memahami konteksnya.

Jika angka tersebut disetarakan sekitar Rp21 juta, rata-rata pendapatan kotor berada di kisaran Rp2,1 juta per hari.

Angka tersebut merupakan hitungan sederhana dari total pendapatan yang diberitakan dan bukan jaminan bahwa setiap hari Shen menghasilkan jumlah yang sama.

Hari pertama bisa berbeda dengan hari kesepuluh. Jumlah pelanggan dapat berubah. Harga bahan baku dapat naik. Bahkan lokasi berjualan dapat memengaruhi penjualan.

Karena itu, keberhasilan awal tersebut sebaiknya dilihat sebagai sebuah pencapaian yang menarik, bukan sebagai formula instan untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar.

Kerja Keras Shen Menjadi Faktor Penting

Terlepas dari persoalan sekolah atau bisnis, satu hal yang sulit dibantah dari kisah tersebut adalah etos kerja Shen.

Ia harus memulai persiapan sejak pagi, melakukan perjalanan sekitar 13 kilometer, membuka lapak pada sore hari, kemudian berjualan hingga dini hari.

Rutinitas tersebut membutuhkan stamina dan disiplin.

Apalagi pekerjaan makanan memiliki tantangan tersendiri. Produk harus dipersiapkan dengan baik, makanan harus dijaga kualitasnya, pelanggan harus dilayani, dan kebersihan harus diperhatikan.

Jika pelanggan mendapatkan pengalaman buruk, mereka dapat memilih membeli dari pedagang lain.

Dengan demikian, keberhasilan Shen kemungkinan bukan hanya karena keberuntungan, melainkan juga karena ia mampu memenuhi kebutuhan pasar dan mempertahankan pelanggan.

Pelajaran Hidup yang Justru Berubah Menjadi Peluang

Pada akhirnya, rencana Deng memang dapat disebut “gagal” jika tujuan awalnya adalah membuat Shen kembali bersemangat sekolah.

Namun, dari sudut pandang lain, rencana tersebut juga berhasil.

Shen mendapatkan pelajaran tentang kerja keras.

Ia mengetahui bahwa mendapatkan uang membutuhkan tenaga, waktu, dan tanggung jawab.

Ia juga menemukan bidang yang benar-benar diminatinya.

Yang berubah hanyalah hasil akhirnya.

Deng berharap anaknya kembali ke sekolah. Shen justru menemukan dunia bisnis sebagai bidang yang ingin ditekuni.

Di sinilah kisah tersebut menjadi menarik.

Pengalaman yang awalnya dirancang sebagai hukuman atau pelajaran justru berubah menjadi proses menemukan potensi diri.

Bukan Berarti Semua Anak Harus Berhenti Sekolah

Kisah Shen sebaiknya tidak ditiru secara mentah.

Keberhasilan seorang individu tidak otomatis menjadi pola yang berlaku bagi semua orang.

Tidak semua remaja yang berhenti sekolah kemudian berhasil menjadi pengusaha.

Banyak pula usaha kecil yang gagal karena kekurangan modal, salah memilih lokasi, tidak mampu mengelola keuangan, atau kalah bersaing.

Karena itu, jika seorang anak ingin berwirausaha, pilihan tersebut sebaiknya dibicarakan secara matang bersama keluarga.

Pendidikan tetap dapat menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Bahkan bagi seorang pengusaha, pendidikan dan pembelajaran tidak pernah benar-benar berhenti.

Seorang pemilik bisnis tetap perlu belajar mengenai pemasaran, akuntansi, teknologi, hukum, perpajakan, manajemen, hingga perilaku konsumen.

Kesimpulan

Kisah Shen dari Jiaxing, Zhejiang, China, menjadi salah satu cerita menarik mengenai bagaimana sebuah rencana orang tua dapat menghasilkan sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

Deng awalnya ingin mengajarkan kepada putranya bahwa kehidupan tidak mudah dan mencari uang membutuhkan kerja keras.

Ia berharap pengalaman berjualan ayam goreng dan makanan ringan membuat Shen kembali menghargai pendidikan.

Namun, Shen justru menemukan bahwa dirinya memiliki kemampuan dan minat di bidang bisnis.

Dengan memanfaatkan sepeda listrik yang dimodifikasi sebagai lapak makanan bergerak, ia mulai berjualan setelah mempersiapkan makanan sejak pagi. Ia melakukan perjalanan sekitar 13 kilometer menuju lokasi jualan dan bekerja hingga dini hari.

Dalam 10 hari, pendapatan yang diberitakan mencapai 10.000 yuan atau sekitar US$1.400. Jika menggunakan kisaran konversi yang beredar saat pemberitaan, nilainya sekitar Rp21 juta.

Angka tersebut merupakan hasil penjualan yang dilaporkan, bukan keuntungan bersih.

Keberhasilan tersebut justru membuat Shen semakin yakin untuk meninggalkan sekolah dan menekuni bisnis makanan.

Walaupun sempat mencoba membujuk putranya agar melanjutkan pendidikan, Deng pada akhirnya memilih mendukung dan membimbingnya.

Kisah ini memberikan satu pesan penting: keberhasilan seseorang tidak selalu dapat diukur hanya melalui nilai sekolah, tetapi keberhasilan di dunia nyata juga membutuhkan keterampilan, disiplin, tanggung jawab, dan kemampuan belajar yang terus-menerus.

Namun, kisah Shen juga mengingatkan bahwa kesuksesan awal tidak boleh membuat seseorang mengabaikan perencanaan jangka panjang.

Sepuluh hari dengan pendapatan tinggi adalah pencapaian yang menarik, tetapi membangun bisnis yang bertahan selama bertahun-tahun membutuhkan jauh lebih banyak daripada sekadar kerja keras.

Pada akhirnya, baik pendidikan formal maupun pengalaman praktis memiliki nilai masing-masing. Tantangan terbesar bagi seorang anak muda bukan sekadar memilih antara sekolah atau bekerja, melainkan menemukan jalan yang memungkinkan dirinya terus belajar, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu membangun masa depan yang berkelanjutan.

Dan bagi Deng, pelajaran yang awalnya ingin diberikan kepada putranya ternyata berubah menjadi pelajaran bagi dirinya sendiri: terkadang, ketika orang tua membuka satu pintu bagi anak untuk belajar, anak justru menemukan pintu lain yang selama ini tidak terlihat.

Catatan Redaksi: Kisah Shen dan ibunya Deng diberitakan media internasional pada September 2024 berdasarkan wawancara dengan sang ibu. Identitas keduanya diberitakan menggunakan nama keluarga/surname, sehingga artikel ini mempertahankan penyebutan “Shen” dan “Deng”. Nilai konversi rupiah merupakan perkiraan dan dapat berubah mengikuti nilai tukar. Angka 10.000 yuan merujuk pada pendapatan/hasil penjualan yang diberitakan, bukan laba bersih setelah seluruh biaya usaha.

Sumber Informasi

  • South China Morning Post, laporan mengenai remaja 17 tahun di Jiaxing yang memperoleh 10.000 yuan dalam 10 hari setelah menjalankan usaha makanan.
  • The Star, pemberitaan ulang mengenai kisah Shen dan ibunya Deng.
  • CNA/8days, pemberitaan mengenai keputusan Shen meninggalkan sekolah setelah berhasil menjalankan lapak makanan.

Posting Komentar untuk "Remaja China Diminta Jualan agar Kapok Tak Mau Sekolah, Malah Raup Rp21 Juta dalam 10 Hari"