Pepadun Lampung dan Kisah Orang Tumi: Jejak Lemasa Kepampang, Payan, dan Marwah Adat Sekala Beghak
Navigasi.in — Pepadun merupakan salah satu simbol penting dalam kehidupan adat masyarakat Lampung. Ia bukan sekadar kursi atau tempat duduk dalam sebuah upacara adat. Dalam pemahaman adat, Pepadun berkaitan dengan kedudukan, kepemimpinan, martabat, norma, tanggung jawab, serta keberlangsungan sebuah persekutuan adat.
![]() |
| Pepadun Lampung dan Kisah Orang Tumi: Jejak Lemasa Kepampang, Payan, dan Marwah Adat Sekala Beghak |
Di balik keberadaan Pepadun terdapat kisah panjang yang menghubungkan manusia, alam, kepemimpinan adat, senjata tradisional, serta ingatan kolektif masyarakat Lampung. Salah satu riwayat yang hidup dalam penuturan adat berkaitan dengan kelompok manusia yang disebut orang Tumi, pohon yang dikenal sebagai Lemasa Kepampang, serta tujuh tokoh yang ditugaskan untuk menghadapi kelompok tersebut.
![]() |
| sandaran bercabang dua yang dikaitkan dengan pohon Lemasa Kepampang |
Riwayat tersebut menempatkan kawasan pegunungan Gunung Pesagi dan wilayah Sekala Beghak sebagai salah satu latar penting. Di sana, menurut kisah yang diwariskan dalam tradisi, pernah hidup sekelompok manusia yang dianggap berbeda oleh masyarakat setempat. Mereka kemudian dikenal dengan sebutan orang Tumi karena makanan yang mereka konsumsi, yaitu buah durian hutan yang dalam penyebutan Lampung disebut Tumi.
Kisah itu kemudian berkembang menjadi bagian dari narasi mengenai asal-usul simbol Pepadun, termasuk sandaran bercabang dua yang dikaitkan dengan pohon Lemasa Kepampang. Di dalamnya juga terdapat cerita mengenai penggunaan senjata Payan yang kemudian dimaknai sebagai simbol pengawalan terhadap Pepadun.
![]() |
| penggunaan senjata Payan |
Berikut uraian panjang mengenai riwayat tersebut, makna Pepadun, tahapan pembuatannya, aturan adat mengenai penggunaannya, serta syair yang berkaitan dengan Pepadun Suku Berangai.
Kisah Orang Tumi di Sekitar Gunung Pesagi
Dalam salah satu riwayat adat, pada masa ketika permukiman manusia di kawasan pegunungan Gunung Pesagi wilayah Sekala Beghak masih berkembang, terdapat sekelompok manusia yang dianggap aneh oleh masyarakat di sekitarnya.
Kelompok tersebut disebut sebagai orang Tumi. Penyebutan itu dikaitkan dengan kebiasaan mereka mengonsumsi buah durian hutan yang oleh orang Lampung disebut Tumi.
Dalam kisah yang diwariskan, orang Tumi tidak hanya digambarkan sebagai kelompok dengan kebiasaan hidup yang berbeda. Mereka juga dikaitkan dengan sebuah pohon yang dianggap memiliki keistimewaan, yaitu pohon nangka bercabang dua yang dikenal dengan nama Lemasa Kepampang.
Keunikan pohon tersebut digambarkan secara sangat simbolis. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa akar pohon berada di atas sementara pucuknya berada di bawah. Getahnya pun dipercaya memiliki sifat racun yang sangat keras.
Bagi kelompok orang Tumi, pohon tersebut bukan pohon biasa. Mereka mengagung-agungkannya dan menjadikannya bagian penting dalam kehidupan kelompok mereka.
Kisah ini kemudian berkembang menjadi narasi yang jauh lebih kompleks karena pohon Lemasa Kepampang disebut berkaitan dengan praktik persembahan korban manusia pada waktu-waktu tertentu.
Dalam riwayat tersebut, korban di antaranya disebut berasal dari warga Kampung Sekalo Beghak yang diculik.
Peristiwa semacam itu akhirnya diketahui oleh para pemimpin adat yang disebut sebagai empat Datu di Sekalo Beghak.
Empat Datu dan Keputusan Menghadapi Orang Tumi
Empat Datu yang disebut dalam riwayat tersebut adalah:
- Datu di Puncak;
- Datu di Pugung;
- Datu di Belalau; dan
- Datu di Pemanggilan.
Menurut cerita adat, keempat Datu tersebut kemudian melakukan perundingan. Persoalan orang Tumi tidak lagi dipandang sebagai persoalan kecil, sebab tindakan kelompok tersebut dianggap telah mengancam keselamatan masyarakat.
Hasil perundingan kemudian melahirkan keputusan untuk menghancurkan kelompok orang Tumi.
Untuk melaksanakan tugas tersebut, tujuh orang ditugaskan. Mereka adalah:
- Appu Kuasa;
- Sang Pulagai;
- Sang Balai Kuang;
- Sang Gariha;
- Puyang Makuda;
- Puyang Mapuga; dan
- Puyang Nyurang.
Dalam narasi yang diwariskan, ketujuh tokoh tersebut berhasil menjalankan tugasnya. Kelompok orang Tumi akhirnya dapat dimusnahkan tanpa ketujuh orang yang menjalankan tugas tersebut harus menjadi korban.
Kemenangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari ingatan adat karena tidak hanya menyelesaikan konflik dengan kelompok orang Tumi, tetapi juga melahirkan simbol-simbol yang kemudian dikaitkan dengan Pepadun.
Lemasa Kepampang Dibawa ke Sekala Beghak
Setelah kelompok orang Tumi dikalahkan, perhatian kemudian diarahkan kepada pohon Lemasa Kepampang yang selama ini diagung-agungkan oleh kelompok tersebut.
Dalam riwayat itu, pohon Lemasa Kepampang ditebang oleh tujuh orang yang sebelumnya ditugaskan menghadapi orang Tumi.
Kayu tersebut kemudian dibawa ke Sekala Beghak.
Kayu Lemasa Kepampang selanjutnya dikaitkan dengan pembuatan Pepadun. Bentuk kayu dengan sandaran bercabang dua kemudian dimaknai sebagai salah satu simbol kesatuan.
Dengan demikian, dalam narasi adat tersebut, Pepadun tidak muncul hanya sebagai sebuah perabot atau kursi yang dibuat untuk kepentingan upacara. Pepadun memiliki kisah simbolis yang menghubungkan konflik masa lalu, kepemimpinan, perlindungan masyarakat, dan kesatuan persekutuan adat.
Cabang dua pada sandaran Pepadun kemudian menjadi salah satu bagian yang memiliki makna tersendiri dalam tradisi yang berkembang.
Payan dan Simbol Pengawalan Pepadun
Selain Lemasa Kepampang, riwayat tersebut juga menghubungkan sejarah Pepadun dengan senjata yang disebut Payan.
Payan digambarkan sebagai senjata berupa tombak yang digunakan dalam menghadapi orang Tumi.
Karena digunakan dalam kisah penumpasan kelompok tersebut, Payan kemudian memperoleh kedudukan simbolis sebagai senjata yang melambangkan pengawalan terhadap Pepadun.
Makna ini menarik karena memperlihatkan bahwa simbol adat tidak selalu berdiri sendiri. Pepadun, sandaran, kayu, dan senjata dapat membentuk satu rangkaian simbolik.
Pepadun menggambarkan kedudukan dan kepemimpinan. Lemasa Kepampang berkaitan dengan asal-usul simbol sandaran bercabang dua. Sementara Payan menggambarkan pengawalan atau perlindungan terhadap kedudukan adat tersebut.
Dalam kerangka pemahaman seperti ini, Pepadun dapat dipandang sebagai simbol yang memiliki dimensi sosial dan moral, bukan sekadar benda fisik.
Apa Itu Pepadun?
Pepadun atau Pepadon merupakan tahta atau tempat duduk yang digunakan dalam prosesi penobatan seorang Penyimbang, yaitu pimpinan dalam suatu persekutuan adat masyarakat Lampung.
Pepadun juga berkaitan dengan proses penobatan Pegawo Tuho, yaitu orang yang memasuki fase tua dalam kehidupan peradatan.
Karena berkaitan dengan kedudukan seseorang dalam struktur adat, Pepadun memiliki arti yang jauh lebih besar daripada fungsi fisiknya sebagai tempat duduk.
Pepadun merupakan bagian dari simbol, nilai, norma, dan marwah adat.
Oleh sebab itu, pemilik kedudukan yang berkaitan dengan Pepadun, baik Penyimbang maupun Pegawo Tuho, mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kehormatan dan nilai-nilai adat yang melekat pada kedudukan tersebut.
Dengan kata lain, memperoleh kedudukan adat tidak hanya berarti memperoleh kehormatan. Kedudukan tersebut juga membawa konsekuensi.
Pepadun sebagai Simbol Marwah Adat
Dalam kehidupan masyarakat adat, simbol memiliki fungsi yang sangat penting. Sebuah benda dapat menjadi penanda identitas sekaligus pengingat terhadap aturan dan tanggung jawab.
Hal tersebut terlihat pada Pepadun.
Ketika seseorang duduk di atas Pepadun dalam rangkaian upacara adat, tindakan tersebut bukan sekadar aktivitas duduk. Posisi tersebut membawa pesan mengenai status dan kedudukan seseorang dalam persekutuan adat.
Karena itu, Pepadun berkaitan erat dengan marwah.
Marwah dalam konteks ini dapat dipahami sebagai kehormatan yang harus dipelihara. Orang yang memiliki kedudukan adat harus menunjukkan perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan adat.
Itulah sebabnya berbagai ketentuan mengenai siapa yang boleh menggunakan atribut tertentu dalam upacara adat menjadi penting.
Penggunaan simbol secara sembarangan dapat dianggap mengganggu tatanan karena simbol-simbol tersebut sekaligus menjadi penanda perbedaan kedudukan dalam struktur adat.
Pembuatan Pepadun dari Kayu Besar
Dalam riwayat mengenai Pepadun, pada masa lalu pembuatan Pepadun dilakukan menggunakan balok kayu dari pohon berukuran sangat besar.
Kayu yang digunakan disebut berasal dari pohon yang memiliki diameter lebih dari satu meter dan telah berumur ratusan tahun.
Kayu tersebut berasal dari kawasan hutan adat yang berada dalam penguasaan Penyimbang atau pemimpin persekutuan adat.
Proses pembuatan Pepadun tidak dilakukan secara sederhana. Terdapat sejumlah tahapan yang dikenal dalam istilah adat.
Tahapan tersebut antara lain Tandang Kayew, Nuwar Kayew, Narah Kayew, Ngulangken Kayew Addeg Aneg, Ngeguai Pepadon, Nyakaken di atas Sesat, hingga proses penerangan dan pemberian nama Pepadun.
Setiap tahap menggambarkan rangkaian kerja yang mengubah pohon di hutan menjadi benda yang memiliki fungsi sosial dan adat.
Tandang Kayew: Mencari Kayu
Tahapan pertama disebut Tandang Kayew.
Secara sederhana, tahapan tersebut berkaitan dengan kegiatan mencari kayu yang akan digunakan sebagai bahan Pepadun.
Namun dalam konteks adat, pencarian kayu bukan sekadar mencari bahan bangunan. Kayu harus berasal dari lingkungan yang memiliki hubungan dengan persekutuan adat.
Pemilihan pohon besar juga menunjukkan betapa pentingnya Pepadun pada masa lalu. Pohon yang digunakan bukan sembarang pohon kecil yang mudah dipindahkan, melainkan kayu besar yang membutuhkan tenaga, waktu, dan kerja bersama.
Nuwar Kayew: Menebang Pohon
Setelah kayu ditentukan, tahap berikutnya disebut Nuwar Kayew, yakni menebang kayu.
Menebang pohon besar tentu membutuhkan kemampuan dan tenaga banyak orang. Karena itu, proses tersebut pada dasarnya juga mencerminkan semangat kerja bersama.
Kayu yang telah ditebang kemudian diproses lebih lanjut untuk mendapatkan bentuk balok.
Narah Kayew: Membentuk Balok
Tahap Narah Kayew berkaitan dengan proses membuat kayu menjadi balok.
Proses tersebut menjadi jembatan antara pohon sebagai bagian dari alam dan Pepadun sebagai benda budaya.
Kayu yang sebelumnya tumbuh di hutan kemudian mulai memperoleh bentuk baru yang sesuai dengan kebutuhan pembuatan Pepadun.
Perubahan bentuk tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat adat mengolah sumber daya alam menjadi benda yang memiliki nilai sosial dan simbolis.
Ngulangken Kayew Addeg Aneg
Setelah menjadi balok, kayu kemudian dibawa pulang ke kampung. Tahap ini disebut Ngulangken Kayew Addeg Aneg.
Ukuran kayu yang besar membuat proses pemindahannya tentu tidak sederhana. Kegiatan semacam ini membutuhkan keterlibatan banyak orang.
Dalam perspektif kebudayaan, kerja bersama tersebut juga mencerminkan bahwa pembuatan benda adat merupakan pekerjaan kolektif.
Pepadun memang nantinya menjadi simbol kedudukan seseorang, tetapi proses pembuatannya melibatkan komunitas.
Ngeguai Pepadon: Membuat Pepadun
Kayu balok yang telah dibawa ke kampung kemudian memasuki tahap Ngeguai Pepadon, yakni proses membuat kayu tersebut menjadi Pepadun.
Pada tahap ini kayu tidak lagi sekadar material. Ia mulai berubah menjadi benda adat yang memiliki bentuk dan fungsi tertentu.
Bentuk Pepadun juga berkaitan dengan status peradatan orang yang akan menggunakannya.
Dalam riwayat yang disampaikan, Pepadun pada awalnya memiliki satu tingkat. Kemudian terdapat Pepadun dengan dua tingkat, sesuai dengan status peradatan sang Penyimbang dan/atau Pegawo Tuho.
Nyakaken di Atas Sesat
Setelah Pepadun selesai dibuat, tahap berikutnya adalah Nyakaken di atas Sesat, yaitu menaikkan Pepadun ke atas balai adat atau Sesat.
Sesat sendiri memiliki posisi penting dalam kehidupan adat Lampung karena menjadi ruang berlangsungnya berbagai kegiatan adat.
Menempatkan Pepadun di atas Sesat menunjukkan bahwa benda tersebut telah memperoleh tempat dalam struktur kehidupan adat.
Pepadun bukan lagi sekadar hasil kerajinan kayu, tetapi telah menjadi bagian dari perangkat upacara dan simbol kedudukan.
Penambahan Tingkat Pepadun dan Status Adat
Dalam tradisi yang dijelaskan, Pepadun dapat mengalami penambahan tingkat papan atau upih.
Jika seseorang memperoleh perubahan atau peningkatan tertentu dalam status peradatan, maka terdapat proses adat yang menyertainya.
Setelah penambahan tingkat tersebut, dilakukan penerangan sekaligus pemberian nama terhadap Pepadun.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bentuk fisik Pepadun tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial adat.
Satu tingkat dan dua tingkat bukan sekadar persoalan desain. Keduanya dikaitkan dengan status dan kedudukan seseorang dalam peradatan.
Sidang Perwatin Kepenyimbangan Pepadun pada 19 Oktober 1869
Salah satu bagian menarik dalam riwayat mengenai tata aturan Pepadun adalah adanya penyebutan sidang adat yang berlangsung pada 19 Oktober 1869.
Sidang tersebut disebut sebagai Sidang Perwatin Kepenyimbangan Pepadun dan berlangsung di Bumi Agung.
Sidang tersebut antara lain membahas persoalan penggunaan Sesako dalam upacara adat naik Pepadun.
Dalam riwayat yang disampaikan, terdapat keputusan yang pada intinya menyatakan bahwa penggunaan Sesako oleh pihak yang tidak berhak dapat menimbulkan kerusuhan. Karena itu, selain mereka yang memang memiliki hak untuk memakainya, pihak lain tidak diperkenankan menggunakan Sesako dalam upacara gawei adat naik Pepadun.
Ketentuan tersebut memperlihatkan bahwa simbol adat memiliki aturan penggunaannya sendiri.
Semakin tinggi nilai simbol sebuah benda, semakin penting pula pengaturan mengenai siapa yang berhak menggunakannya.
Apa Itu Sesako?
Sesako merupakan istilah yang dalam riwayat tersebut digunakan untuk menyebut senderan kursi Pepadun.
Dengan demikian, Sesako merupakan bagian dari struktur Pepadun yang memiliki makna simbolis tertentu.
Larangan penggunaan Sesako secara sembarangan menunjukkan bahwa bagian fisik Pepadun dapat menjadi penanda status.
Aturan seperti ini pada dasarnya berfungsi menjaga keteraturan dalam upacara adat.
Dalam masyarakat yang memiliki struktur kepemimpinan adat, simbol status diperlukan agar kedudukan masing-masing pihak dapat dikenali. Tanpa aturan, simbol dapat diperebutkan atau digunakan tanpa memperhatikan hak dan kedudukan.
Ketertiban Adat dan Penggunaan Simbol
Riwayat mengenai sidang tahun 1869 juga memperlihatkan satu hal penting: hukum adat tidak hanya mengatur persoalan kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengatur simbol dan tata cara upacara.
Pepadun menjadi contoh bagaimana benda, gelar, posisi duduk, sandaran, dan tahapan upacara dapat memiliki aturan tersendiri.
Tujuan akhirnya adalah menjaga keteraturan.
Dalam konteks tersebut, marwah adat tidak hanya dipelihara melalui nasihat. Ia juga dipelihara melalui aturan yang menentukan hak, kewajiban, dan tata cara penggunaan simbol.
Pepadun dan Konsep Kepemimpinan
Salah satu makna utama Pepadun dapat dilihat dari hubungannya dengan Penyimbang.
Penyimbang bukan hanya orang yang mendapatkan penghormatan, tetapi juga figur yang memikul tanggung jawab terhadap persekutuan adat.
Karena itu, Pepadun dapat dipandang sebagai pengingat bahwa kedudukan harus berjalan bersama tanggung jawab.
Seseorang yang memiliki kedudukan tinggi dalam adat tidak hanya memperoleh hak untuk dihormati. Ia juga memiliki kewajiban menjaga nama baik keluarga, persekutuan, serta norma adat yang diwariskan.
Dalam konteks inilah Pepadun menjadi simbol marwah.
Simbol Kesatuan dalam Pepadun
Kisah Lemasa Kepampang juga memberikan lapisan makna mengenai kesatuan.
Pohon yang dalam riwayat menjadi objek pemujaan orang Tumi kemudian ditebang dan kayunya dibawa ke Sekala Beghak. Kayu tersebut selanjutnya menjadi bagian dari Pepadun dengan sandaran bercabang dua.
Dalam narasi tersebut, cabang dua dikaitkan dengan simbol kesatuan.
Makna simbolis ini menarik karena sebuah benda yang sebelumnya berada dalam konteks kelompok yang dianggap sebagai ancaman kemudian mengalami perubahan makna setelah masuk ke dalam tatanan adat.
Ia bukan lagi simbol kelompok Tumi, melainkan bagian dari simbol adat yang berkaitan dengan kesatuan dan kepemimpinan.
Dari Kisah Masa Lalu Menjadi Identitas Budaya
Seperti banyak tradisi masyarakat Nusantara, riwayat mengenai Pepadun tidak hanya berfungsi sebagai cerita masa lalu.
Ia menjadi cara masyarakat menjelaskan mengapa suatu simbol memiliki bentuk tertentu, mengapa sebuah senjata memiliki kedudukan tertentu, dan mengapa penggunaan suatu bagian dari perangkat adat dibatasi.
Dengan demikian, cerita tersebut dapat dibaca sebagai narasi budaya.
Nilai utamanya bukan semata-mata pada apakah seluruh detail cerita dapat dibuktikan menggunakan metode sejarah modern, tetapi juga pada bagaimana cerita tersebut diwariskan dan dimaknai oleh masyarakat yang menjadikannya bagian dari identitas budaya.
Untuk kajian sejarah, tentu diperlukan pembandingan dengan arsip, manuskrip, catatan kolonial, penelitian antropologi, arkeologi, linguistik, serta sumber-sumber adat lainnya.
Namun dalam konteks pelestarian budaya, cerita lisan dan pengetahuan adat tetap penting untuk dicatat agar tidak hilang.
Syair Arak-Arakan Pepadun Suku Berangai
Riwayat mengenai Pepadun juga disertai syair arak-arakan Pepadun Suku Berangai yang berkaitan dengan Nuwo Berangai, Nuwo Balai Agung, Penagan Ratu, Migo Buay Nunyai, Abung Siwo Migo, dan Lappung.
Syair tersebut berbunyi:
Biyas kuning tenabuiUjan riyal bahasoPepadun pupang cangakAnjak batang lemasoMasso ngalahkan TumiMak mingan mak yo lapahMejeng di Lapang Sesako DumasSesat Menango Aji
Syair tersebut menjadi bagian dari ekspresi budaya yang menyertai arak-arakan Pepadun. Bahasa yang digunakan memiliki karakter khas dan membawa gambaran mengenai perjalanan, Pepadun, Lemasa, Tumi, Sesako, serta ruang adat.
Dalam tradisi lisan, syair seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian kata-kata. Ia dapat menjadi media untuk mengingat cerita, tokoh, tempat, dan simbol yang dianggap penting.
Makna Lemasa dalam Ingatan Adat
Lemasa Kepampang menempati posisi unik dalam riwayat Pepadun.
Ia digambarkan sebagai pohon yang memiliki bentuk tidak biasa dan memiliki getah beracun. Pohon tersebut kemudian menjadi bagian dari konflik antara masyarakat Sekala Beghak dan orang Tumi.
Setelah konflik berakhir, kayunya justru menjadi bagian dari simbol adat.
Transformasi tersebut dapat dipahami sebagai proses perubahan makna. Sesuatu yang sebelumnya menjadi bagian dari dunia orang Tumi kemudian ditempatkan dalam sistem simbol masyarakat adat yang berbeda.
Dalam perspektif kebudayaan, cerita seperti ini menunjukkan bagaimana masyarakat memberikan makna terhadap benda-benda yang berada di sekitar mereka.
Gunung Pesagi dan Sekala Beghak dalam Narasi Budaya
Gunung Pesagi dan kawasan Sekala Beghak menjadi latar penting dalam berbagai narasi mengenai asal-usul masyarakat Lampung.
Kawasan pegunungan secara umum sering menjadi ruang penting bagi terbentuknya permukiman awal, jalur perpindahan manusia, sumber air, hutan, serta berbagai sumber daya alam.
Dalam cerita mengenai Pepadun, wilayah tersebut bukan hanya latar geografis. Ia menjadi bagian dari ruang ingatan.
Tempat-tempat seperti Sekala Beghak, Puncak, Pugung, Belalau, dan Pemanggilan disebut bersama dengan para pemimpin adat sehingga membentuk suatu jaringan cerita mengenai masyarakat masa lalu.
Karena itu, menjaga nama tempat dan cerita yang berkaitan dengannya merupakan salah satu bagian dari pelestarian memori budaya.
Mengapa Riwayat Pepadun Perlu Dilestarikan?
Perubahan zaman membuat banyak pengetahuan tradisional berpotensi hilang.
Generasi muda kini hidup dalam lingkungan sosial yang jauh berbeda dengan masyarakat Lampung pada masa lalu. Teknologi digital, urbanisasi, perubahan mata pencaharian, dan perkembangan pendidikan membuat pola pewarisan pengetahuan adat juga berubah.
Jika cerita mengenai Pepadun hanya disampaikan secara lisan tanpa dokumentasi, bukan tidak mungkin sebagian detailnya hilang atau mengalami perubahan.
Karena itu, dokumentasi seperti penulisan sejarah lisan, wawancara tokoh adat, perekaman syair, pendataan benda adat, serta penelitian mengenai istilah-istilah Lampung menjadi penting.
Dokumentasi tidak berarti membekukan budaya. Sebaliknya, dokumentasi dapat menjadi sumber bagi generasi berikutnya untuk memahami bagaimana identitas budaya mereka terbentuk.
Pepadun Bukan Sekadar Kursi
Jika dilihat secara fisik, Pepadun mungkin tampak seperti sebuah kursi atau tahta kayu.
Namun maknanya jauh lebih luas.
Di dalamnya terdapat konsep mengenai kepemimpinan, status, kehormatan, tanggung jawab, aturan, kesatuan, dan sejarah kolektif.
Kisah mengenai Lemasa Kepampang dan orang Tumi memberikan salah satu lapisan cerita mengenai bagaimana simbol tersebut dipahami dalam tradisi.
Sementara proses pembuatan Pepadun dari kayu besar memperlihatkan bahwa benda tersebut membutuhkan kerja, keterampilan, dan keterlibatan komunitas.
Ketentuan mengenai Sesako memperlihatkan bahwa penggunaannya juga tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Keseluruhan unsur tersebut membentuk sebuah sistem simbolik yang membuat Pepadun memiliki posisi penting dalam kehidupan adat.
Menjaga Marwah Adat di Tengah Perubahan Zaman
Pelestarian budaya tidak hanya berarti mempertahankan bentuk fisik benda-benda tradisional.
Yang tidak kalah penting adalah memahami nilai yang ada di balik benda tersebut.
Pepadun dapat tetap dipertahankan secara fisik, tetapi jika generasi berikutnya tidak memahami makna tanggung jawab, kepemimpinan, norma, dan marwah yang melekat padanya, maka sebagian nilai budaya dapat hilang.
Karena itu, pelestarian Pepadun sebaiknya dilakukan bersama dengan pelestarian cerita, bahasa, syair, tata upacara, pengetahuan pembuatan, dan aturan adat yang berkaitan dengannya.
Generasi muda juga perlu diberi ruang untuk mempelajari budaya tersebut secara kritis. Tradisi dapat dihormati sekaligus dipelajari melalui berbagai pendekatan, termasuk sejarah, antropologi, linguistik, dan kajian kebudayaan.
Catatan Penting Mengenai Riwayat Orang Tumi dan Lemasa Kepampang
Riwayat mengenai orang Tumi, Lemasa Kepampang, tujuh tokoh, empat Datu, Payan, serta asal-usul Pepadun merupakan bagian dari narasi adat yang perlu ditempatkan dalam konteks tradisi dan ingatan budaya.
Detail mengenai masa, tokoh, tempat, dan peristiwa sebaiknya terus dikaji dengan membandingkannya dengan sumber-sumber sejarah dan penelitian ilmiah yang tersedia.
Pendekatan tersebut penting agar pelestarian budaya tidak berubah menjadi klaim sejarah tanpa dasar, sekaligus tidak membuat warisan tradisi lisan kehilangan tempatnya dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, kisah tersebut dapat dipahami dalam dua ruang sekaligus: sebagai warisan narasi adat yang diwariskan dari generasi ke generasi dan sebagai objek penelitian yang masih terbuka untuk dikaji lebih lanjut.
Pesan yang Dapat Diambil dari Riwayat Pepadun
Terlepas dari perbedaan pendekatan dalam membaca riwayat tersebut, terdapat sejumlah nilai yang dapat dipahami dari narasi Pepadun.
Pertama adalah pentingnya kesatuan. Bentuk sandaran bercabang dua dalam cerita tersebut dikaitkan dengan kesatuan.
Kedua adalah perlindungan. Payan disebut sebagai simbol pengawalan terhadap Pepadun.
Ketiga adalah kepemimpinan. Pepadun berkaitan dengan Penyimbang dan Pegawo Tuho.
Keempat adalah tanggung jawab. Kedudukan adat tidak hanya membawa kehormatan, tetapi juga konsekuensi moral dan sosial.
Kelima adalah ketertiban. Sidang Perwatin Kepenyimbangan Pepadun yang disebut berlangsung pada 19 Oktober 1869 memperlihatkan adanya upaya mengatur penggunaan simbol adat agar tidak menimbulkan perselisihan.
Dan keenam adalah pelestarian. Cerita, syair, benda, bahasa, serta tata cara adat merupakan bagian dari warisan yang perlu dicatat dan diwariskan.
Warisan yang Lebih Besar dari Sebuah Benda
Pepadun pada akhirnya dapat dipahami sebagai sebuah simbol yang menghubungkan manusia dengan sejarah komunitasnya.
Kayu yang berasal dari pohon besar di hutan berubah menjadi benda adat. Benda tersebut kemudian ditempatkan di Sesat dan digunakan dalam prosesi yang berkaitan dengan kedudukan seseorang.
Di baliknya terdapat cerita mengenai Gunung Pesagi, Sekala Beghak, orang Tumi, Lemasa Kepampang, empat Datu, tujuh tokoh, serta Payan.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah benda dapat menjadi wadah ingatan kolektif.
Oleh sebab itu, Pepadun bukan hanya perlu dilihat dari bentuknya. Ia perlu dibaca melalui cerita yang menyertainya.
Begitu pula syair arak-arakan bukan sekadar susunan kata. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menghidupkan kembali ingatan tentang adat melalui bahasa dan pertunjukan.
Penutup
Riwayat mengenai Pepadun, orang Tumi, dan Lemasa Kepampang merupakan salah satu bagian menarik dari kekayaan narasi budaya Lampung.
Kisah tersebut menghubungkan kawasan Gunung Pesagi dan Sekala Beghak dengan perjalanan simbol adat yang kemudian dikenal melalui Pepadun. Empat Datu disebut mengambil keputusan untuk menghadapi orang Tumi, sementara tujuh tokoh—Appu Kuasa, Sang Pulagai, Sang Balai Kuang, Sang Gariha, Puyang Makuda, Puyang Mapuga, dan Puyang Nyurang—disebut menjalankan tugas tersebut.
Lemasa Kepampang kemudian dikisahkan ditebang dan dibawa ke Sekala Beghak. Kayunya menjadi bagian dari Pepadun dengan sandaran bercabang dua yang dimaknai sebagai simbol kesatuan. Sementara Payan, yang dalam riwayat digunakan sebagai senjata tombak, kemudian dikaitkan dengan simbol pengawalan terhadap Pepadun.
Seiring perjalanan waktu, Pepadun berkembang menjadi simbol kedudukan Penyimbang dan Pegawo Tuho. Proses pembuatannya pun memiliki tahapan yang disebut Tandang Kayew, Nuwar Kayew, Narah Kayew, Ngulangken Kayew Addeg Aneg, Ngeguai Pepadon, hingga Nyakaken di atas Sesat.
Riwayat mengenai Sidang Perwatin Kepenyimbangan Pepadun pada 19 Oktober 1869 juga menunjukkan pentingnya aturan dalam menjaga penggunaan simbol adat.
Pada akhirnya, nilai terbesar dari Pepadun bukan hanya terletak pada kayu yang membentuknya, tetapi pada nilai, norma, sejarah, kepemimpinan, tanggung jawab, dan marwah yang diwariskan bersamanya.
Semoga pengetahuan mengenai Pepadun dan berbagai riwayat yang menyertainya terus dicatat, dikaji, diwariskan, dan dilestarikan sehingga generasi Lampung berikutnya tetap mengenal akar budayanya.
Semoga bermanfaat dan lestari.
H.M. Amperawan Glr. St. Pn. Rj. Guntur Mergo
Tag: budaya Lampung, Pepadun, Pepadon, Sekala Beghak, Gunung Pesagi, Lemasa Kepampang, orang Tumi, Payan, Penyimbang, Pegawo Tuho, Sesat, Sesako, adat Lampung, Suku Berangai



Posting Komentar untuk "Pepadun Lampung dan Kisah Orang Tumi: Jejak Lemasa Kepampang, Payan, dan Marwah Adat Sekala Beghak"