Sejarah Perang Jambi - Johor Pecah

Navigasi Info - Dalam catatan sejarah, perang terbuka antara Jambi dengan Johor berlangsung lebih kurang 14 tahun lamanya sejak tahun 1667 – 1681 M. Dalam kurun waktu 14 tahun itu telah terjadi paling kurang 4 kali perang. Dengan kata lain hubungan Jambi dengan Johor dalam kurun waktu selama 14 tahun diwarnai dengan penderitaan rakyat akibat peperangan. Dalam catatan sejarah Jambi tahun peperangan Jambi-Johor adalah sebagai berikut.

  1. Perang Jambi-Johor ke I tahun 1667 M. 
  2. Perang Jambi-Johor ke II tahun 1673. 
  3. Perang Jambi-Johor ke III tahun 1677-1679 M. 
  4. Perang Jambi-Johor ke IV tahun 1680 – 1681 M.

Dua (2) tahun sebelum perang meletus, di mana penguasa Jambi Sultan Agung wafat lalu diganti oleh putranya Raden Penulis, gelar Sultan Abdul Mahyi Sri Ingolopo (1665 – 1690). Puncak ketegangan yang telah berlangsung puluhan tahun adalah meletusnya perang besar antara Jambi dengan Johor tahun 1667. Dalam perang ini Jambi mendapat serangan pasukan Johor.

Potret; bersama Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi dan rombongan. 1904.
Potret; bersama Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi dan rombongan. 1904.


Palembang ikut terlibat peperangan dengan memihak Johor. Sedangkan petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika, ikut pula berkhianat dengan membantu Johor dan menyerang Jambi. Dalam perang ini Jambi mengalami kekalahan dan menderita banyak menderita kerugian. Namun tahun 1673 Jambi dapat merebut Tungkal.

Kekalahan Jambi dalam perang melawan Johor tahun 1667 menyebabkan Sultan Abdul Mahyi Sri Ingologo sangat marah karena kekalahan ini adalah penghinaan oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah Johor. Dalam situasi sulit yang sedang dihadapi sultan Jambi itu, maka Belanda menawarkan kerja sama dan Jambi menerima uluran tangan Belanda tersebut.

Kemarahan sultan Jambi lalu diungkapkannya dalam sebuah surat tantangan untuk Sultan Johor. Surat sultan Jambi sengaja dibuatnya dengan nama dan cap surat diletakkan di atas kepala surat. Dalam tradisi Melayu bilamana nama dan cap surat di atas kepala surat, artinya negeri yang menerima surat tersebut adalah wilayah taklukan negeri pengirim surat. Membaca surat sultan Jambi itu maka Raja Bujang atau Sultan Abdul Jalil Riayat Syah sangat murka, seolah-olah negeri Jambi lebih berkuasa dari pada Johor.

Surat ini dipandang sebagai penghinaan yang menyakitkan segenap rakyat Johor yang berdaulat. Setelah pengiriman surat ini masing-masing pihak telah dapat merasakan bahwa peperangan akan terulang lagi. Pada awal tahun 1673 ada usaha Johor untuk berdamai dengan Jambi melalui Belanda sebagai perantara, namun mengalami kegagalan. Karena kegagalan perdamaian ini maka Jambi dan Johor telah bersiap diri menghadapi segala kemungkinan pecah perang Jambi­ Johor ke II.

Tidak menunggu lama dalam bulan April tahun 1673 perang Jambi-Johor memang terulang kembali dengan skala lebih besar. Belanda dan Palembang serta petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika mendukung Jambi. Perang Jambi-Johor ke II ini, diawali dengan serangan Jambi ke pusat/jantung ibu negeri Johor di Johor Lama, yang terletak di pinggiran sungai Johor. Angkatan perang Jambi menduduki ibu negeri di Johor Lama, sultan Abdul Jalil Riayat Syah bersama pembantunya melarikan diri ke Pahang dan Datuk Bendahara Johor ditawan Jambi. Dalam perang tahun 1673 ini, Johor Lama dapat dihancurkan. Dan Tungkal dapat direbut kembali oleh Jambi. Pasukan Jambi dalam perang tahun 1673 membawa serta barang rampasan perang antara lain sebagai berikut.

Empat (4) ton emas murni. Meriam besi 95 pucuk. Tawanan perang sebanyak 1268 orang. Dan berbagai jenis senjata api. Setahun setelah kalah perang maka Johor bangkit kembali dan mengadakan persiapan membalas kekalahannya. Pasukan Johor dibantu Palembang dan petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika, sedangkan Jambi dibantu VOC dengan peralatan militer. Perang Jambi-Johor ke III ini berlangsung dari tahun 1677-1679. Dalam perang ini Jambi dikalahkan Johor dan Jambi harus membayar kepada Johor antara lain sebagai berikut.

Uang Tunai 10.000 rijksdaalders. Meriam Besi 2 buah. Sejumlah emas, Mengembalikan Tawanan tahun 1673. Setelah kekalahan Jambi dalam perang ke III maka tahun 1680 – 1681 pecah perang ke Jambi-Johor ke IV. Angkatan perang Johor dibantu Palembang dan Daeng Mangika menyerang Jambi. Ketiga pasukan gabungan ini mengepung Jambi dari segala penjuru. Dalam perang ini Jambi dibantu secara penuh oleh Belanda dengan berbagai macam perlengkapan militer dan dana. Akhir dari peperangan ini ternyata serangan Johor, Palembang dan petualang Bugis dapat dipukul mundur dan Johor menderita banyak kerugian. Daerah Tungkal serta Indragiri dikuasai sepenuhnya oleh Jambi.

Analisa


Hampir selama abad 17 hubungan Jambi dengan Johor penuh dengan perselisihan, pergolakan dan peperangan. Perang Jambi Johor selama hampir 14 tahun ternyata di kemudian hari kedua belah pihak tidak memperoleh keuntungan apapun juga, kecuali kehancuran, kemunduran, dan penderitaan rakyat. Yang beruntung dalam perang Jambi­-Johor adalah kaum penjajah Belanda, Inggris, dan Portugis serta petualang Bugis pimpinan Daeng Mangika. Analisis dampak negatif akibat perang Jambi-Johor adalah sebagai berikut :

1. Negeri Jambi.


Secara ekonomis negeri Jambi mengalami kebangkrutan ekonomi karena biaya perang yang sangat besar. Kejayaan negeri Jambi mulai turun dan melemah peranannya di kawasan pantai timur Sumatra.

Belanda secara terang-terangan mulai memihak atau terlibat masalah perebutan kekuasaan antar keluarga keraton Jambi. Sultan Abdul Mahyi Sri Ingologo tahun 1690 turun takhta lalu ditangkap dan dibuang ke Pulau Banda.

Dampak perang Jambi-Johor yang paling menyakitkan hati rakyat Jambi adalah semakin tahun kedudukan Belanda semakin kuat, dan semakin banyak perjanjian ditanda-tangani sultan, maka semakin banyak bagian negeri Jambi tergadai kepada Belanda.

2. Negeri Johor.


Bagi Johor dampak negatif perang Jambi-Johor yang melelahkan itu hampir tidak berbeda dengan Jambi, yakni mengalami kehancuran, kemunduran dan penderitaan rakyat. Untuk membangun kembali Johor Lama yang hancur dan memulihkan pembangunan dalam negeri akibat perang, maka sultan Johor sangat memerlukan suasana aman dan damai.

Dalam kondisi Johor seperti ini tidak heran kalau sultan/penguasa Johor berikutnya melakukan perjanjian dengan bangsa Barat, negeri tetangga dan memberi peran para petualang Bugis yang memang sangat berjasa dalam perang Jambi-Johor.

Menurut pandangan penulis berdasarkan catatan sejarah di Jambi, karena kondisi dan situasi negeri Johor selesai perang Jambi-Johor telah melapangkan jalan para petualang Bugis berperan lebih jauh dalam bidang politik negeri Johor. Proses ini adalah awal dari proses panjang adanya menuju pergeseran dinasti di dalam kesultanan negeri Johor.

Hubungan Jambi-Johor Abad 19


Pada abad 19 hubungan Jambi-Johor dapat dikatakan berjalan dengan baik karena adanya saling pengertian. Sejak negeri Jambi diperintah oleh Sultan Thaha Syaifuddin (1855 – 1904) hubungan Jambi-Johor terlihat sangat harmonis. Hubungan baik antara Jambi-Johor masih terlihat sampai masa Indonesia/Jambi menghadapi agresi militer Belanda kedua tahun 1949.

Ia menunaikan janji yang pernah diucapkannya: akan mati mempertahankan tanahnya hingga tetesan darah penghabisan. Dini hari 27 April 1904 itu menjadi saksi sejarah keteguhan Sultan Thaha berlawan terhadap Belanda. Dalam usia 88 tahun dan berjuang nyaris 50 tahun, ia gugur sebagai pejuang dan pahlawan rakyat.


navigasiin
navigasiin navigasiin adalah portal Situs Berita Berbahasa Indonesia yang menyajikan berita terkini terpercaya sebagai petunjuk inspirasi anda

Posting Komentar untuk "Sejarah Perang Jambi - Johor Pecah"